depopulasi_itu_semakin_jelas_kawan

“Barangkali di sana ada jawabnya

Mengapa di tanahku terjadi bencana

Mungkin Tuhan mulai bosan, melihat tingkah kita

Yang selalu salah dan bangga dengan dosa-dosa

Atau alam mulai enggan, bersahabat dengan kita ….”

Kita semua sepakat memang Ia menyampaikan semua pesanNya melalui tanda-tanda, tertuang dalam bagaimana alam semesta bergerak, berbicara, merefleksikan “sesuatu” hal. Ebiet G. Ade menuliskan keluhannya dengan jujur, dan kita mengangguk setuju.

Tidak lama setelah keputusan kontroversial topik isu LGBT di negara kita, alam pun menjawabnya. Keputusan yang semakin memudahkan gerak dan suara para kaum sexual disorder, dijawab kontan lewat tragedi gempa bumi.

Dengan memberi celah untuk bergerak, atas dasar kebebasan berpendapat dan kasih sayang, agenda program bernama depopulasi itu semakin nyata kawan.

“Lesbian Gay Bisexual Transgender,” populer disebut: LGBT.

“The Kissinger Report,” NSM 200

Pada tahun 1975 di bulan Desember, Henry Kissinger, seorang penasihat – sekretaris negara bagian untuk Presiden Gerald Ford, menerbitkan “National Security Study Memorandum 200,” atau NSSM 200. Yang kemudian dirilis ke publik di tahun 1989.

depopulasi_itu_semakin_jelas_kawan
Henry Kissinger berperan penting dalam otorisasi pengesahan agenda depopulasi

Garis besarnya jelas, menopang agenda – agenda sebelumnya terkait depopulasi terhadap dunia. Segaris dengan Rockefeller yang mengontrol bidang pendidikan. Kemudian menghadirkan pabrik mind control  dibalik “Tavistock Institute,” Kissinger menggunakan pengaruhnya untuk meresmikan secara legal berbagai agenda depopulasi yang semakin marak belakangan ini.

Kissinger menjabarkan di dalamnya, depopulasi harus dilakukan dengan membatasi permintaan publik akan bahan makanan, kesehatan, edukasi – pendidikan, dan pelayanan publik yang dilakukan oleh negara pada umumnya. Aturan – aturan “rancu” atas nama negara harus dilegalkan.

Cara “Halus” Depopulasi dengan LGBT

“Loh kok LGBT depopulasi? apa hubungannya? jangan mikir konspirasi mulu deh.”

Kebanyakan bilang begitu. Tanpa melihat isu ini secara komprehensif, dengan efek kausalitas (sebab – akibat).

Pemaham fakta konspirasi jangan berpikir program frontal agenda depopulasi seputar “itu – itu saja,” LGBT adalah depopulasi secara halus, selain agenda vaksinasi.

[perfectpullquote align=”full” bordertop=”false” cite=”” link=”” color=”#ff1419″ class=”” size=””]Selain peperangan, penciptaan virus, obat-obatan terlarang (drugs), vaksinasi, propaganda industri farmasi dalam dunia medis; program depopulasi juga terdapat dalam program LGBT.[/perfectpullquote]

Dengan mempopulerkan LGBT dalam persepsi publik umum, sebagai hal yang “lumrah” dan wajar, maka tingkat kelahiran (birth rate control) otomatis mengecil dan stagnan di masa depan.

Tidak ada lagi regenerasi yang lahir dari perkawinan beda jenis, karena suatu kemustahilan sampai kiamat terjadi, penganut LGBT bisa bereproduksi dan melahirkan generasi berikutnya.

Mengontrol birth rate control dengan mensukseskan program LGBT, maka tindakan preventif otomatis berjalan. Di lain sisi, konsep depopulasi secara frontal sudah lebih dulu meluncur. Dalam bentuk peperangan, perekonomian, dan propaganda medis – farmasi.

Ibaratkan sebuah pabrik, yang tiap harinya melahirkan banyak produk hasil perkawinan silang memproduksi jutaan produk, ketika tercetus konsep untuk tidak lagi memproduksi (discontinued), maka ada dua cara untuk mengatasinya: menghancurkan produk yang sudah ada di pasaran, dan menghentikan lahirnya produk – produk baru di kalangan publik. Program LGBT adalah langkah untuk “menghentikan.”

Jadi, selain menghancurkan yang sudah ada, mereka juga mencegah untuk lahirnya produk terbaru jutaan lainnya.

“Asymmetric Warfare,” Perang Asimetris

Peperangan via cara berpikir yang tidak lazim. Dalam Islam kita mengenalnya dengan Ghazwul Fikri. Ini adalah peperangan yang paling fatal dan sangat berbahaya, bukan peperangan frontal lewat mesin – mesin perang.

Peperangan ini sekali tercetus dan terpatron dalam populasi, turun – temurun korban perang Asimetris tidak akan pernah sadar bahwa mereka adalah korban.

Lihatlah sekeliling kita, bagaimana terlalu banyak publik berkelakuan irasional, namun dirasionalkan dengan alasan “peradaban.”

[perfectpullquote align=”full” bordertop=”false” cite=”” link=”” color=”#ff1419″ class=”” size=””]Slavery is freedom,
debt is a must,
money is power.[/perfectpullquote]

depopulasi-itu-semakin-jelas-kawan

Dewan Riset Nasional (DRN), 2008, Jakarta, mendefinisikan perang Asimetris:

“Perang asimetris adalah suatu model peperangan yang dikembangkan dari cara berpikir yang tidak lazim, dan di luar aturan peperangan yang berlaku, dengan spektrum perang yang sangat luas dan mencakup aspek-aspek astagatra (perpaduan antara trigatra: geografi, demografi, dan sumber daya alam/SDA; dan pancagatra: ideologi, politik, ekonomi, sosial, dan budaya).”

Metodologi perang ini adalah dengan menguasai – mengontrol struktur dalam posisi penting dalam skala pemerintahan sebuah negara, ataupun global. Dengan menguasai – mengontrol bidang yang berada di tingkat piramida tertinggi dalam sistem, maka kesuksesan agenda – agenda yang tidak lazim akan semakin mudah.

Mulai dari sistem pemerintahan, ideologi – religi (belief), perbankan, kesehatan (medis), perekonomian, pendidikan, dan semacamnya. Agenda LGBT masuk ke dalam salah satunya.

Coba kita sama-sama berkilas balik, persepsi apa yang muncul dalam benak kita secara spontan ketika melihat perilaku penyuka sesama jenis saat sepuluh tahun lalu?, ketidak wajaran, negativisme, dan sangat kontras dengan semua ajaran agama bukan?

Mari kita lihat kenyataannya belakangan ini, kira-kira beberapa tahun belakangan ini?

Rasionalitas kita bahkan terlihat mudah untuk “dikalahkan” dengan persepsi publik yang kadung dibentuk untuk menganggap kaum LGBT yang senormalnya nyeleneh, terlihat wajar juga lumrah! seakan itu bukanlah suatu perilaku irasional!

Sesuai dengan perkembangan jaman, menurut mereka (publik awam).

Ini adalah salah satu kesuksesan bagaimana pola pikir (mind control) yang dilontarkan dalam asymmetric warfare terbukti.

Dengan “membiasakan” pola pikir publik terhadap fenomena yang irasional seakan rasional, maka tahap awalan dalam mengontrol persepsi – opini publik telah sukses! 

Langkah berikutnya?, biarlah peran otorisasi bergerak dengan sokongan dana melimpah.

Indonesia Memang Sebagai Target

Chojonowski membeberkan, ada sepuluh negara utama yang menjadi sasaran utama untuk agenda ini. Diantaranya, ada tiga negara di Asia Tenggara, selain negara kita Indonesia, Filipina dan Thailand tercatat. Sebagaimana kita lihat, jauh sebelumnya Thailand memang sangat memberikan kebebasan soal urusan transgender.

Gayung pun bersambut, tidak lama setelah hebohnya pernyataan Menteri Agama kita tentang isu LGBT, Rodrigo Duterte juga menyetujui agenda serupa di Filipina!

Klop! hipotesa Chojonowski tentang ketiga negara di Asia Tenggara berarti bukanlah isapan jempol!

Hipotesa ini diperkuat oleh pernyataan Mahfud MD, bagaimana gelontoran dana dalam jumlah sebesar 150 juta dollar telah mengucur masuk di akhir tahun 2015 lalu. Ia memperingatkan, bahwa ranah Mahkamah Konstitusi (MK) hanyalah dalam urusan yudikatif, berhati-hatilah bila aturan itu sudah menjadi bahasan ranah legislatif kecamnya.

“Jadi, ini bila nanti datang ke anggota-anggota DPR, ini bisa lolos. Sebab itu, aktivis-aktivis datangi DPR. Kalau ini lolos juga, berarti Anda menerima bayaran itu, gitu aja,” ujar Mahfud.

Perlu diketahui lanjutnya, bahwa pembahasan terkait UU KUHP yang memasukkan zina dan LGBT sebagai perbuatan pidana masih tertahan di DPR.  Sebab, separuh anggota DPR belum setuju hal itu masuk kriminalisasi dan separuh lagi menyatakan tidak masuk sebagai tindak kriminal.

Padahal, pada 1998 pemerintah Indonesia menandatangani deklarasi hak asasi manusia di Kairo yang menyatakan bahwa agama akan menjadi sumber hukum. Dan, seluruh agama mana pun tidak suka perzinaan dan pantas di kriminaliasi menjadi aturan hukum.

Aktivis LGBT yang semakin nekad tanpa malu sebagai LGBT, Hartoyo. Pernah berucap bahwa ia dan kawan – kawan disuplai dana oleh LSM bernama HIVOS. Organsisasi yang bermarkas di Belanda, berjualan isu seperti kesetaraan gender, kebebasan berpendapat, dan kemanusiaan sebagai tameng mereka.

 

depopulasi_itu_semakin_nyata_kawan

 

Mereka memang sengaja “menaklukkan” level otorisasi terlebih dahulu, karena disitulah peran yang sangat vital dalam suatu tatanan sistem negara yang dituju.

Dengan mengerahkan seluruh kekuatan dari segi pendanaan, kontrol – penggiringan opini publik via “pelacur jurnalistik,” maka opini publik akan perilaku binatang ini semakin mudah diterima bagi awam, belum lagi nanti ketika berstatus legal. Sempurnalah agenda mereka!

“If the fact doesn’t match with the evidence, change the fact!.”

Ketika bukti tidak lagi relevan dengan agenda – tujuan, maka ubahlah bukti tersebut. Ini lebih dulu dilakukan di Amerika Serikat.

Dengan berani untuk menambahkan referensi palsu dalam “The Rainbow Bible,” maka peran otorisasi dalam masalah keyakinan (belief), akan lebih mudah untuk “diterima” awam. Mereka memanipulasi beberapa ayat yang terkesan sangat dipaksakan, demi justifikasi bahwa agama tidak melarang perbuatan kotor selayaknya binatang tersebut.

Scott Lively adalah seorang pengacara sekaligus “public enemy” terbesar kaum LGBT di Amerika! ia menjabarkan bagaimana “The Rainbow Bible,” adalah kepalsuan yang sengaja dibuat atas nama agama.

Seorang yang memiliki orientasi menyukai sesama jenis terutama kepada pria (homoseksual), sekarang dipersilahkan untuk menjadi seorang pendeta. Pernyataan Niels Huchtausen, seorang pendeta Katolik di Berlin, secara terbuka justru menyatakan “penyakit” ini adalah lumrah dan diperbolehkan dalam kaidah kasih sayang dalam agama.

“Male and female priests have a right to do this.” klaimnya.

Sebelumnya, pernyataan sang Paus Francis bahwa agenda depopulasi bisa diterima (acceptable) lewat virus Zika tidak terekspos media mainstream dan publik. Ia bilang, dengan menghindari kehamilan bukanlah suatu “kejahatan” iblis.

“The Elites” sangat menginginkan birth rate control. Warren Buffet, Bill Gates beberapa contoh figur yang mendonasikan uang mereka secara “cuma-cuma” untuk mensukseskan paham kontrasepsi, aborsi, vaksin dan feminisme dengan mengontrol PBB. Rockefeller-lah yang menginisiasikan penemuan pil dan produk medis tersebut, yang tertuang dalam hak aborsi dan obata-obatan di Amerika, RU-586.

Tujuan ini tidak hanya diperuntukkan bagi publik Amerika Serikat saja, Kissinger dan kawan – kawannya menginginkan ini agenda ini kepada negara – negara lain di dunia. Dengan mencetuskan konsep “dua anak cukup,” kemungkinan pada tahun 2000, hasil dari agenda ini diprediksi hanya akan melahirkan 500 juta manusia lebih sedikit, berlanjut nanti pada tahun 2050 dengan berjumlah kisaran 3 miliar saja.

Atas Nama “Kemanusiaan” yang Bias

Para agen-agen bayaran dari kepanjangan tangan mereka ini selalu meneriakkan isu dibalik kosakata kemanusiaan (humanity), kebebasan berpendapat (freedom of speech – act), dan toleransi (tolerance).

Lucunya, selalu bermata dua; berstandar ganda. Mereka meneriakkan hal – hal itu, sembari memaksakan gaya dan pendapat mereka kepada generasi yang masih terbilang plotis. Manusia normal diharuskan merasionalkan logika dibalik isu – isu itu, namun mereka dengan bebas menularkan – menyebarkan penyakit konyol diantara kalangan manusia normal lainnya?

Dimana peran toleransi dan kemanusiaan itu berlaku? ketika itu terjadi?

Dalam agama apapun, tidak ada satupun yang merasionalkan penyimpangan seksual (sexual disorder) sesama jenis. Apalagi dalam Islam. Bagaimana peringatan bagi kaum Nabi Luth (Soddom and Gomorrah) tertuang dalam Al-Quran.

Entah apa yang ada dalam benak Kementerian Agama, sang Menteri berujar sangat kontroversial atas dalih “kemanusiaan.”

“Mereka harus dirangkul dan diayomi, bukan justru dijauhi dan dikucilkan. Justru kewajiban kita para penganut agama, bahwa agama itu adalah mengajak. Kalau kita menganggap hal tersebut adalah tindakan yang sesat, maka kewajiban kita untuk mengajak kembali mereka ke jalan yang benar,” ucapnya.

Tanpa malu menyebut, “Mereka merefleksikan apa yang mereka rasakan, karena itu sesuatu yang baik karena disiarkan oleh media..”

depopulasi_itu_semakin_jelas_kawan

Ini adalah langkah – kebijakan yang terprogram, terstruktur dengan cantik. Bukan sekedar lewat kebetulan begitu saja. Asymmetric Warfare.

Bagaimana pernyataan ilmiah Dr. Fidiansjah, Sp. KJ dengan telak menjelaskan LGBT adalah “mental disorder.” Ia juga membantah dengan mudah bagaimana teori “Buku Saku,” yang dijadikan alibi oleh Hartoyo; adalah propaganda yang bisa dibuat oleh pihak yang berkepentingan!

•••

Pesan Mitologi yang Pro dengan LGBT?

Islam, Kristen dan Judaisme berjibaku mencoba untuk menjawab ketidak beresan penganut sesama jenis sejak ribuan tahun lalu. Jangan heran, kenapa agenda depopulasi dengan menonjolkan sisi perilaku menyimpang dengan menyukai sesama jenis ini terus dipopulerkan.

[perfectpullquote align=”full” bordertop=”false” cite=”” link=”” color=”#ff1419″ class=”” size=””]Tahukah kamu, bahwa mitologi kuno sudah lebih dulu mempopulerkan konsep LGBT?, dengan merefleksikannya dalam beberapa kepercayaan mereka.[/perfectpullquote]

Sejak secret society membuat agenda “New World Order”, ditambah keyakinan mereka dengan ketiadaan Tuhan dengan lebih mempercayakan kepada Baphomet. Agenda Depopulasi memang sudah direncanakan, dan harus dilakukan.

Akan tiba jaman dimana semua prophecy menurut mereka harus diluncurkan, ditularkan dan dilakukan umat manusia di dunia. Ini bukanlah lagi sebuah kebetulan. Mereka menghadirkan “The Great Era of Deception,” sebuah jaman dimana banyak kebingungan yang sengaja dibuat, irasional sebagaimana manusia normal seharusnya berpikir.

Depopulasi dan program transgender adalah deception, terlihat jelas refleksi Baphomet itu sendiri dibawah ini, yang dikenal dengan nama lain Azazel dalam kisah “Book of Enoch,” Baphomet memang transgender.

depopulasi_itu_semakin_jelas_kawan

Transvestites and transsexuals also appreciate and “enjoy” Baphomet, seeing the figure as “a hermaphroditic expression of perfection which ‘marries’ male and female, masculine and feminine, in a wonderful prefigurement of the third sex that will replace its imperfect male and female predecessors.” Uncyclopedia

Historikal mitologi pelbagai mitologi di belahan peradaban kuno sudah lebih dulu menularkan paham LGBT dengan cerita Dewa – Dewi pujaan mereka.

Greek dan Roman

Dalam mitologi Yunani (Greek) dan Romawi (Romans) sudah duluan menjabarkan kisah asmara sesama jenis.

Zeus dan Ganymede. Dewa Maha Besar Greek ini terlibat hubungan yang cukup serius. Suatu saat Zeus melihat bocah rupawan ini sedang merawat kawann domba di ladang, Zeus diceritakan tertarik dan berubah wujud menjadi Elang, lalu menculik Ganymede untuk dibawah ke Surga. Di Surga, Ganymede ditugaskan untuk melayani Zeus; menyajikan cangkir untuk para Dewa di sana. Plato menceritakan memang Ganymede adalah anak emas dari Zeus, mereka menyukai satu sama lain.

Ganymede memang mitologi Pagan, yang diabadikan dengan nama bulan yang mengorbit pada planet Jupiter.

depopulasi_itu_semakin_jelas_kawan

Hermes dengan Sang Anak Hermaphrodite. Istilah Hermaphrodites lahir dari kisah ini. Aphrodite, sang Dewi cantik kaum Greek terlibat skandal dengan “tidur” bersama Dewi Hermes, Sang pembawa pesan para Dewa. Kemudian melahirkan seorang anak yang androgynous, beberapa bilang sang anak memiliki dua kepribadian, sang anak itulah yang dinamakannya dengan Hermaphrodites

depopulasi_itu_semakin_jelas_kawan

Mesopotamian

Gilgamesh dengan Enkidu. Gilgamesh atau Nimrod, dikenal sangatlah arogan sehingga Aruru sang Dewi menciptakan Enkidu, sebagai penyeimbang sisi Gilgamesh. Enkidu dikisahkan dibesarkan bebas di tengah alam liar, kemudian bertemulah dengan Gilgamesh. Mereka bertempur, bergulat, sampai akhirnya Gilgamesh terkesima dengan kekuatan dari Enkidu. Dan menjadi “sangat dekat,” kemudian berhubungan intens.

depopulasi_itu_semakin_jelas_kawan

Sampai akhirnya Enkidu terjatuh sakit dan mati, Gilgamesh tidak mau Enkidu dikubur dan membusuk dengan tanah. Gilgames  sering menyandingkan Enkidu selayaknya seorang wanita, sebagai seseorang yang ia cintai dan sayangi.  Yang diceritakan dalam buku ke-12 “The Epic of Gilgamesh.”

Egyptian

Selain kisah LGBT dalam kisah Horus dan Set, kultur Mesir kuno ternyata sudah lebih dulu mengenal metode kontrasepsi dengan menggunakan bahan karet dari pohon Akasia. Kisah ini diperkuat oleh Kahun Gnecological Papyrus. 

Seth dan Horus. Seth yang sangat menginginkan peran sebagai pemimpin dari para Dewa, menggoda Horus dengan ketertarikan seksual dalam dirinya. Dengan menjadikan Horus sebagai sang wanita, Seth berharap akan membuat para Dewa lainnya murka. Walaupun mereka tetap melakukannya, Seth tidak mendapatkan apa yang diinginkannya.

Via ancient-origins

Japanesse

Shinu No Hafuri dan Ama No Hafuri. Kedua Dewa Jepang ini keduanya adalah lelaki, sampai mereka saling menyukai kemudian turun ke bumi, ketika Ama No Hafuri mati, Shinu merasa kehilangan dan memutuskan bunuh diri.

depopulasi_itu_semakin_jelas_kawan

Terima kasih bagi yang menyadari penuh utuh, bagaimana perang asimetris masih dan terus berjalan, menghantam pemikiran manusia – manusia normal dengan kekonyolan yang sengaja diagendakan, lewat berbagai posisi strategis. Sebelum terlambat dan sangat menyedihkan, jangan pernah takut untuk berkata tidak; dengan perilaku manusia yang lebih rendah dari seekor binatang.

Karena hanyalah binatang bernama Babi, satu – satunya binatang yang bisa menyukai sesama jenisnya. 

“Perjalanan ini terasa sangat menyedihkan. Sayang engkau tak duduk disampingku kawan…”


Referensi via cfnews dan “The Kissinger Report: The Depopulation Agenda of America’s Elite 1974 to 1973.” By Peter Chojnowski, Ph. D.

Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *