elit global ingin kalian menjadi cashless society

Pada bulan Juni 2015, para bankir internasional dan elit global yang berkumpul dalam G-7 dan G-20 di Austria menginginkan percepatan hegemoni sistem cashless society dengan masif. Termasuk petinggi Google dan beberapa petinggi korporasi teknologi terlibat di dalamnya.

“Cashless society adalah peradaban yang tidak lagi menggunakan uang tunai (fisik) sebagai alat transaksi dalam keseharian.”

“Kita harus melawannya,” kecam Brett Scott dengan frontal. Eks broker pialang saham, yang juga penulis “The Heretic’s Guide to Global Finance: Hacking the Future of Money.”

“Bankir yang berkolaborasi dengan pemerintah, ditambah financial tech, ingin kita segera beralih ke transaksi digital, tanpa adanya uang tunai; disertai jaminan bahwa itu lebih aman dan inovatif.” menurutnya. Sebuah pernyataan klasik para elit yang penuh misi terselubung dibalik label “modernisasi ekonomi.”

Sejatinya, mereka hanya menginginkan keuntungan bisnis disertai kontrol penuh yang jarang disadari publik awam.

Semuanya dilakukan serba online, terpusat dalam dunia maya. Semua data terkait privasi, historikal transaksi, sampai iklan – iklan penawaran terkait produk yang relevan dengan karakter kita pun tercakup di dalamnya.

Menjamurnya aplikasi-aplikasi mobile yang  semakin hari semakin masif membujuk publik agar beralih sebagai konsumen utama dalam cashless society. 

Didukung gelontoran dana marketing nan aduhai, ditambah sokongan elit global, tidak heran iklan – pemasaran apps penunjang cashless society bebas menyihir publik dimanapun.

Dimudahkannya mesin-mesin elektronik sebagai penunjang dalam bertransaksi yang nantinya hanya berbentuk dalam sebuah kartu plastik di dompetmu.

Apa yang sebenarnya kita hadapi?  sekian kalinya dihadirkan ilusi fatamorgana yang dikemas apik dalam tagline modern dan efektif.

Dalam waktu singkat, gelombang ketidak setujuan publik disertai protes keras; melontarkan bahwa cashless society adalah peperangan – imperialisme gaya terbaru para bankir dan elit global.

Pilihan dan Kebebasan yang Tidak Lagi Mutlak

Cashless society adalah utopia yang dibuat para bankir agar semakin menguntungkan posisi mereka dalam dunia bisnis. Kebebasan sebenarnya tidak lagi mutlak ada di tangan para konsumen, dengan memilih menaruh semua uang tunai (fisik) yang dikonversi ke dalam bentuk uang digital dalam sebuah kartu, otomatis kita sudah menyerahkan dengan siap mengikuti aturan main para bankir dan elit global.

Yang mencari uang, kita. Yang mengorbankan semua waktu dan tenaga, juga kita. Ketika ingin menikmati jerih payah yang didapatkan dengan uang tunai, para bankir justru seenaknya mengajak ke dalam sistem yang hanya bisa dikontrol – diketahui jelas oleh mereka.

Dengan uang tunai yang sebenarnya juga sudah dilucuti dengan tipu-tipu dibalik istilah inflasi, setidaknya kita memiliki pilihan intrinsik ketika memegang uang; bentuknya ada, kontrol di tangan kita.

Kita tahu kemana aliran uang kita habis dan disimpan, dalam sistem cashless, uang tunai yang mengendap dan berubah menjadi deretan angka dalam layar, kita tidak pernah tahu apakah uangnya benar ada, atau sedang diputar kesana-kemari oleh para korporasi.

“Konsumen tidak lagi memiliki kedaulatan memegang kontrol penuh atas uang yang dimilikinya, uang berputar di dalam sistem – lingkup yang mereka ciptakan.”

Apa yang terjadi ketika sistem eror? tidak berjalan, nge-hang istilahnya?

Inilah yang dialami Visa kepada jutaan pelanggannya di Eropa, mereka terjebak gagal bertransaksi karena terjadinya kesalahan sistem, publik ‘dipaksa’ mengikuti sistem mereka yang konyol, tanpa adanya opsi transaksi tunai disediakan.

Itu juga yang terjadi ketika error computer di India pada bulan Juni 2012, kesalahan teknisi saat data input, melahirkan chaos karena gagalnya konsumen menerima haknya, pemasalahan itu selesai dalam beberapa hari kedepan.

Sedikitnya keuntungan yang didapatkan oleh Visa ketika transaksi tunai dilakukan, akhirnya membuat Visa gencar mengkampanyekan cashless society dengan kampanye “Cash Free and Proud.”

Dengan menjamurnya cashless society di masa depan, mereka akan sangat mudah mendapatkan profit dari tiap transaksi elektronik yang menggunakan jasa – infrastruktur yang mereka ciptakan.

Para bankir global ingin memprivatisasi – menguasai sarana – infrastruktur dalam ekosistem cashless society, Mastercard, salah satunya, yang mengejar keuntungan bisnis per transaksi elektronik, karena dengan uang tunai, konsumen tidak perlu membayar tambahan biaya apapun.  Hal yang tidak terjadi dengan transaksi tunai bukan?

Uang Tunai yang sudah lebih dulu ‘Dicurangi’

Padahal, uang kertas yang beredar di pasar, sudah lebih dulu ‘dicurangi’ tiap tahunnya dengan rataan tingkat inflasi. Sekarang, para bankir dengan elit global dibelakangnya, semakin rakus dengan propaganda cashless society, memang kerakusan akan hasrat duniawi adalah keyakinan mereka.

Inflasi adalah kecurangan kasat mata, yang menjadikan nilai uang yang dikumpulkan di hari ini, perlahan menyusut nilainya dalam beberapa waktu ke depan.  Uang 1 juta di hari ini, bisa berbeda nilainya di tahun depan! itulah magisnya inflasi! sim salabim.

Bagaimana di Indonesia? konsep pemaksaan sepihak dengan e-toll adalah langkah awal dalam cashless society.

E-toll sebagai langkah awal ‘cashless society’

E-toll adalah salah satu cara mereka, para bankir yang berkolaborasi dengan pemerintah, merampok dengan sopan terhadap publik. Meniadakan pembayaran cash dengan kewajiban pembayaran masuk gerbang tol haruslah dengan e-toll card.

Forum Warga Kota Jakarta berani mengklaim bahwa pemerintah telah menyalahi UU Nomor 7 Tahun 2011 Tentang Mata Uang. Apalah daya, mereka sudah lebih dulu mencengkram sistem dengan ‘lobi-lobi Yahudi’ kepada pemerintah kita, dengan dalih apapun, yang selepasnya akan dilegalisasi oleh sistem.

2 hipotesa kenapa cashless dalam e-toll menjadi sebuah kerugian:

Konsumen dipaksa sepihak. Dengan membayarkan sejumlah 50,000,- rupiah, konsumen tidak menerima saldo dalam kartu e-toll senilai yang sama, konsumen hanya menerima saldo sebesar 30,000,- rupiah saja.  Selebihnya, berdalih biaya ini-itu sebagai pelengkap propaganda mereka.

Padahal jelas ditemukan, harga jual e-toll card pada rekanan retail mereka sangat variatif, yang memperjelas disitulah mereka lagi-lagi mengambil keuntungan bisnis!

Itu satu mobil, berapa mobil hilir mudik riuh pekak dalam sehari? banyak!

Efek Gardu Otomatis. Konfederasi Serikat Pekerja Indonesia bilang, dengan adanya gardu otomatis, maka akan mengurangi kesempatan mata pencaharian mereka. Dengan adanya gardu otomatis sebagai instrumen utama e-toll, daya serap tenaga kerja manusia pun menyurut sirna, yang membuahkan keputusan dengan ‘merumahkan’ 2,000 tenaga kerja!

Dengan pemaksaan sepihak oleh pemerintah, e-toll juga mengurangi peredaran uang tunai di pasar. Semua uang tunai yang masuk, mengendap dengan dikonversi menjadi sebuah kartu, berlanjut ke pihak mereka, maka peredaran uang di pasar tertarik perlahan yang kemudian bermuara kepada mereka, rekanan Bank.

Asumsikan begini:

Ada 100,000,000 mobil hilir mudik via tol dalam kota, sebagai rute PP. Uang fisik senilai 100,000,- (asumsi untuk pembelian saldo e-toll untuk seminggu). Kurang lebih: 100,000,000 mobil dikalikan 100,000,- rupiah uang kertas fisik, untuk dikumpulkan – dikonversikan dalam bentuk kartu elektronik. Dalam sekejap, uang tunai senilai 10,000,000,000,- menghilang dari pasaran, masuk ke dalam penyedia jasa e-toll yang pastinya Bank.

Uang sebesar itu menguap, berganti menjadi sepotong kartu. Yang tidak bisa diuangkan kembali, apapun resikonya.

Pertanyaannya, uang menghilang dari pasaran dalam skala rutin, sementara sistem transaksi kebanyakan pelaku mikro ekonomi menggunakan uang tunai dalam keseharian, apakah ini berpengaruh dengan daya beli publik yang katanya semakin rendah makin hari? sudah pasti!

Karena peredaran uang tunai, tidak sebanyak dulu, Uang sebesar itu tadi, tersimpan di lembaga ‘white collar syndicate’ bernama Bank. Apakah yang dilakukan dengan uang dalam skala besar itu? sudah pasti diputar untuk kelangsungan bisnis bank!

Sadarkah dengan pola mereka? pahami!

Aset potensial dengan ‘Big Data’

Setiap transaksi yang tercatat, historikalnya pasti tersimpan, barang apa, jenisnya, berapa banyak, kapan dan dimana, tersimpan rapih dalam sistem sentralisasi. Selain uang, big data adalah potensi bisnis bagi mereka, yang bisa diolah untuk dimaksimalkan demi keuntungan korporasi.

Selanjutnya, bisa ditebak. Serbuan varian informasi agar kita dibuai pelan tanpa sadar untuk semakin menajamkan sisi konsumtif kita: serbuan iklan dalam bahasa yang membuai, tele marketing, ads retargeting. Big data is business.

Mereka bisa dengan mudah mengetahui batas plafon harga jual produk, yang sudah disesuaikan dengan kemampuan daya beli tiap-tiap konsumennya.

Kok bisa tahu? big data yang kita lengkapi sebelum berada di dalam cashless society adalah sumber informasi mereka, untuk memaksimalkan keuntungan. Ingat, kita sudah menyetujui dengan merelakan data pentingmu disana.

Mereka punya rekam jejak secara unik dan mendetil tentangmu.

Contoh kasus di India, mereka memiliki Aadhar. Yakni national ID system yang tersentralisasi di pusat database dengan pendataan menggunakan biometrik, nomor ID beserta informasi lengkap tersimpan di pusat database.

“Bagaimana pemerintah India menjadikan ‘cashless society’, dengan tidak memberikan opsi pilihan selain menjadi ‘cashless.'”

Sadis!

Mereka datang dengan hegemoni seakan modern – futuristik, dibalik tujuan sebenarnya para bankir: mendapatkan keuntungan dalam jumlah yang sangat ‘wah’.

“The Boston Consulting Group memperkirakan, bank dan perusahaan penyedia jasa pembayaran seperti Visa, Mastercard saat ini menghasilkan 1 triliun dari para retailer rekanan mereka di seluruh dunia, efek penggunaaan jasa embayaran elektronik.”

Cashless society hanyalah sebuah eufimisme, sejatinya “ask-your-banks-for-permission-to-pay.” Mau apa yang ingin kita lakukan, haruslah dalam sepengetahuan pihak bank. Konyol!

Kita semakin bergantung terhadap bankir, kita tidak lagi memiliki otoritas sebuah kontrol intrinsik dalam diri, selayaknya kitat memegang guang tunai.

Menakuti publik dengan rasa takut berlebih dengan alasan keamanan, sehingga cashless society sebagai ilusi dan menjadi keharusan.

Efek Psikologi ‘Cashless Society’

Riset yang pernah dilakukan dalam kurun waktu 1970-an: membuktikan bahwa kita tidak melihat dan menganggap sebuah kartu sama nilainya dengan selembar uang tunai dalam bentuk kertas yang “sebenarnya.” 

Asumsi itu sangat mempengaruhi perilaku kita,  untuk sangat lebih mudah tergoda untuk menghabiskan sebuah kartu plastik daripada saat kita memegang uang kertas sebagai alat pembayaran.

Karena uang tunai (fisik) kontras dengan warna menyolok dan bahan yang ekslusif, menjadikan kita cukup sungkan untuk menghabiskannya dengan mudah. Sementara kartu debit – kredit, terlihat enteng acapkali kita menyorongkan kartu untuk di-scan sebagai simbol transaksi pembayaran.

Sensasi ketika menggosokkan kartu kredit, kita merasa “mudah” dan menyenangkan, ditambah,  simbol status sosial seakan meningkat ketika orang lain melihat. Kita menipu diri kita dibalik tameng modernisasi finansial!

American Pyschological Association menyimpulkan serupa, otak kita pekat mengingat bagaimana rasanya kita menghabiskan uang tunai, namun tidak begitu terasa ketika selembar uang kertas berubah wujud menjadi sebuah kartu plastik.

Itu kenapa kasino menggunakan chips pengganti uang saat di bertaruh di meja judi, sesuatu yang terlihat enteng, mudah dan menyenangkan; justru sangat cenderung mengundang perilaku “menghabiskan” daripada “menyimpan.”

“Cashless society is a euphemism for the “ask-your-banks-for-permission-to-pay”. Cashless is only the invisible — digital — bank ledger.” – Daily Pioneer

Maukah rakyat selalu menjadi bancakan para bankir yang semakin didukung elit global?

Pilihan ada padamu. Cahsless society bukan isapan jempol konspirasi, tapi jelas: bagaimana  mereka ingin kita semua terkendali.

They want totally control, control and control in your life.

REFERENSI VIA

AeonKompasiana / Dailypioneer

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *