tradisi-saturnalia-yang-lekat-dengan-paganisme
“Io Saturnalia!” saling sapa publik Romawi ketika merayakan festival “Saturnalia.”

Selamat hari Saturnalia! kurang lebih begitu artinya.

tradisi_gelap_roman_saturnalia

“Saturnalia” adalah sebuah tradisi festival populer yang lekat dengan Paganisme bagi kaum Romawi. Tradisi festival ini biasanya diberlakukan sejak tanggal 17 sampai dengan 23 pada bulan Desember. Bahkan bisa diperpanjang sampai dua hari kedepan, dengan berakhir di tanggal 25 Desember.

Publik Romawi atau Romans, merayakannya dengan penuh sukacita. Terutama bagi kalangan para budak – budak. Mereka bernyanyi, bersantap bersama, berjudi, juga melakukan tradisi tanpa busana selama festival  “Saturnalia” berlangsung.

Demi Sang Dewa, Saturn

Etimologi “Saturnalia” diambil dari nama sebuah Dewa yang sangat diyakini bagi kaum Pagan sebagai simbol representasi dari kekayaan, kebebasan, dan Sang pemilik dimensi waktu. Dalam ancient Greeks, dikenal dengan nama lain Kronos. Nama Sang Dewa juga diabadikan dalam memperingati hari terakhir dari tujuh hari yang tersedia dalam satu minggu, Saturday.

tradisi_gelap_roman_saturnalia

[perfectpullquote align=”full” bordertop=”false” cite=”” link=”” color=”#ff1419″ class=”” size=””]Kaum Romawi percaya bahwa era keemasan (Golden Age) yang dialami, berkat Dewa Saturn, menjadikan lahan pertanian mereka subur dan kaya. [/perfectpullquote]

“The King Of Misrule.”

Momen terpenting dalam “Romans Saturnalia” yakni bagaimana para tuan – tuan yang memiliki budak, memperlakukan mereka berkebalikan. “The King of Misrule,” istilahnya. Sang tuan melayani dan memperlakukan para budak yang dimilikinya, selayaknya diri mereka saat diperlakukan. Para budak berstatus sementara sebagai “Libertus”, atau freedmen. 

Persamaan status menjadikan tradisi dalam festival “Saturnalia” adalah hari spesial bagi mereka.

Para budak diliburkan, dengan diberikan kebebasan untuk berpakaian bersih dan rapih. Mereka diberikan sebuah topi, yang menandakan pada saat “Saturnalia.” mereka adalah manusia bebas dan setara dengan sang majikan, freedmen.

festival_saturnalia_yang_lekat_paganisme

Mereka boleh berkeliling kota, mabuk – mabukkan, sampai bermain judi dengan bebas tanpa mengenal status mereka. Para budak ketika “Roman Saturnalia” berstatus sama dengan para tuan mereka. Demi merayakan Golden Age.

tradisi_gelap_roman_saturnalia

Ilustrasi momen saat merayakan Roman Saturnalia, “The Osteria Della Via.”

Bagi kalangan umum Romanstradisi ini dianggap sebagai pencerahan disaat mereka mengalami musim dingin yang berkepanjangan, namun bagi para budak – budak, menjadi hari terbaik dengan berbagai macam kebebasan dan hadiah – hadiah.

Perjudian dadu (dice), yang konon ditemukan oleh Romans, menjadi permainan populer di antara para budak dan sang majikan. Mereka menggunakan biji kacang – kacangan sebagai alat bertaruh, menggantikan uang yang dianggap terlalu besar dan mahal untuk menjadi nilai taruhan.

tradisi_roman_saturnalia_yang_lekat_paganisme

Lalu hadirnya “Lectisternium,” sebuah public banquet (meja prasmanan diperuntukkan umum) yang menyediakan berbagai macam hidangan. Mereka juga meyakini, ketika para Romans berkumpul kala menyantap hidangan berbagai golongan, Sang Dewa juga hadir bersama di tengah mereka.

“…a lectisternium was ordered (the senators prepared the couch), and a public banquet. For a day and a night the cry of the Saturnalia resounded through the City, and the people were ordered to make that day a festival and observe it as such for ever.”

Romans sengaja memenuhi perut mereka dengan berbagai hidangan, sangat berlebihan, sekalipun mengakibatkan muntah (over-eating). Bernyanyi, bahkan menangisi Sang Dewa Saturn.

Di hari terakhir festival, di tanggal 23 Desember, mereka mengadakan “Sigillaria”. Yang berarti Hari Patung Kecil, “Day of Little Figures”.

Mereka saling memberikan patung – patung kecil yang terbuat dari kayu dan lilin.  Banyak yang mengartikan bahwa patung – patung tersebut digunakan sebagai pengganti dari ritual okultisme yang kejam, tadinya menggunakan manusia sebagai alat ritual untuk dikorbankan, demi Sang Dewa Saturn.

Tapi ada juga yang berpendapat, bahwa ritual bertukar patung hanyalah sekedar ritual biasa, saling memberikan hadiah tok.

Berbagai tradisi dalam festival memang lekat dengan bau Paganisme. Sebelum akhirnya “Constantine The Great” mengubah landasan dasar keyakinan mayoritas publik Romawi menjadi Katolik. Dari situlah lahir otorisasi keistimewaan kalangan Gereja dalam Vatikan dan Jesuit di abad ke-16.

Banyak kontroversi menyatakan bahwa Constantine hanya mengubah sekedar label dan judul, namun di dalamnya masih banyak mengandung simbologi Paganisme dalam ritual Katolik di era awal berlakunya. Terutama bagaimana pola Jesuit beroperasi dibalik pimpinan Ignatius Loyola.

Tiga hari kedepan, “Saturnalia” berakhir. Apakah kamu juga merayakannya, dan saling berucap “Io Saturnalia!”. Siapa tahu kamu lebih yakin dengan Paganisme 🙂


Referensi via sacred-texts ancient-origins

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *