Jesuit-dan-bank-sentral

Di tahun 1540, sang pendiri Jesuit, Ignatius Loyola diberikan legitimasi oleh Paus Paul III untuk berperan dalam perumusan ulang Bank of Rome. Sebelum nanti kedepannya mereka terlibat penuh, mengambil alih peran edukasi dan sains modern.

Jesuit dan peran dalam bank sentral

Pasca terbentuk ulangnya Bank of Rome, perpanjangan tangan mereka segera menjamur di berbagai negara dengan membuka beberapa cabang perwakilan.

Berawal di tahun 1587 di Venice, Italia. Kemudian The Wisselbank Amsterdam di tahun 1609, Hamburg di tahun 1619, Nuremberg di tahun 1621, Rotterdam di tahun 1635, dan Bank of England di tahun 1694.


Bank of England sebagai bank sentral pertama

Nama terakhir di atas merupakan bank sentral pertama di dunia, Bank of England. Mengadopsi model bisnis persis dari Bank of Rome yang diprakarsai oleh Jesuit. Mereka mengontrol berbagai kebijakan finansial yang sarat kolonialisme dan kezaliman.

Benjamin Franklin menceritakan betapa korup-nya Bank of England saat itu:

“The refusal of King George III to allow the colonies to operate an honest money system, which freed the ordinary man from the clutches of the money manipulators was probably the prime cause of the revolution.” 

Bank of England mengadopsi sistem Bank of Rome yang dibentuk oleh Jesuit, adalah bank sentral pertama di dunia yang memprakarsa proses penerbitan “notes”, atau surat utang, kemudian mengambil keuntungan dari bunga yang dipinjamkan ke parlemen Inggris saat itu.

Mereka sengaja menerbitkan surat utang dalam skala masif ber ujuan memberikan fasilitas kemudahan pinjaman uang, dengan misi terselubung, memberikan suku bunga terus menerus tanpa henti.

Pola inilah yang masih terus berjalan, dan menjerat berbagai negara dengan tameng hutang.