Kontroversi-dan-pembekuan-jesuit

Banyaknya tekanan di kalangan internal Vatikan dan eksternal negara-negara lain terhadap Jesuit, menghasilkan keputusan pembekuan ordo bentukan Loyola tersebut di abad ke-18. Pada tahun 1773 saat rezim kepemimpinan Vatikan dipimpin oleh Paus Clement XIV. 

kontroversi-dan-pembekuan-jesuit

Pembekuan ini lahir karena melihat indikasi adanya permainan yang tidak terlihat dibalik Vatikan. Jesuit dibekukan perihal keterkaitan pandangan ideologi dan keterlibatan sikap politik mereka, yang menggunakan segala cara sekalipun melawan aturan di negara tersebut. Aturan tersebut tidak berlaku dalam penyelenggaraan mereka di bidang edukasi dan kemanusiaan.

Dalam artian, walaupun dibekukan, Jesuit masih diperbolehkan eksis, ataupun infiltrasi dengan menyusup ke berbagai sektor, dibalik tameng edukasi dan kemanusiaan.

Infiltrasi, intimidasi, provokasi, sampai pembunuhan

Pengusiran di berbagai negara dalam kurun waktu 1555 sampai 1931, tidak membuat Jesuit tunduk takluk, walaupun kurang lebih 83 negara dan kota lainnya mengecam keterlibatan mereka dalam intrik dan infiltrasi politik, provokasi terhadap status quo, dan pembangkangan.

Penyataan sinis bernada ancaman keluar dari mulut Fransico Borgia, The Superior General ketiga Jesuit, dengan lugas memperingatkan siapapun yang menghalangi pergerakan Jesuit, dengan cara pengusiran dan pembekuan, “We came in like lambs and will rule like wolves. We shall be expelled like dogs and return like eagles.” 

“Kami datang selayaknya anak domba, dan akan memerintah seperti para serigala, kami mungkin terusir seperti sekumpulan anjing, namun akan datang kembali seperti sekumpulan elang.”

Kematian tragis berbuah kepada Paus Clement XIV pasca membekukan Jesuit di tahun 1773,  dalam kurun waktu sembilan bulan pasca keputusannya, ia mati tragis dengan cara diracun.

“Jesuit terkenal karena keahlian mereka menyusup, menipu, memata-matai, dengan berakhir lewat pembunuhan, ataupun revolusi di berbagai negara tujuan mereka. Mereka terjun ke dalam politik berbagai negara, kemudian menerapkan kebijakan – tujuan mereka di negara-negara tersebut.”  – The Babington Plot, J.E.C Shepherd (12).

Beberapa pembunuhan figur penting yang ditenggarai Jesuit ikut terlibat di dalamnya antara lain: William of Orange, Kings Henry III and Henry IV of France, Czars Alexander I and Alexander II of Russia, President Abraham Lincoln and John F. Kennedy, and Mexican President Benito Pablo Juarez.

Abraham Lincoln, bapak pendiri United States of America sadar, bahwa ia sedang menghadapi kejahatan terstruktur oleh Jesuit. Ia justru berani berucap:

“… it is not against the Americans of the South, alone, I am fighting. It is more against the Pope of Rome, his perfidious Jesuits and their blind and blood-thirsty slaves that we have to defend ourselves.” – Fifty Years in the Church of Rome, by Charles Chiniquy (496).

Senasib dengan Paus Clement XIV, Abraham Lincoln tewas ditembak saat menonton dalam gedung pertunjukkan.

Kontroversi-dan-pembekuan-jesuit

Diperkuat lagi melalui catatan U.S Army Brigadier General Thomas M. Harris: “Rome’s Responsbility for the Assasination of Abraham Lincoln,” 1897 (19).

“The favorite policy of the Jesuits (is) that of assasination.”

Bagaimana fakta sejarah konspirasi keterlibatan Jesuit lebih jauh?, benarkah Hitler hanya bekerja sendirian tanpa sokongan dari pihak manapun?, tunggu cerita selanjutnya.

Via worldlastchance.com “10 Facts You Must Know About Jesuits.”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *