konspirasi manipulasi waktu

Saat kita sadar bahwa bumi itu memang datar, mungkin kita berasumsi bahwa inilah konspirasi terbesar dalam sejarah peradaban manusia. Mungkin.

Ternyata ada yang lebih besar dan sangat berpengaruh penting dalam kehidupan kita sehari-hari. Efek manipulasi yang terbentuk karena hanyalah pemenang yang selalu diingat sejarah, sangat penting dengan kita di hari ini.

Yakni, konspirasi dan manipulasi sang dimensi waktu.

Dampak dan Efeknya?

Dimensi acuan sang waktu sangat berpengaruh dalam kehidupan kita di hari ini.

Kita tunduk pada sang waktu. Kita takluk pada sang waktu yang berjalan maju, tanpa pernah kita lihat ia berjalan mundur. Kita diperbudak dengan senang hati mau tak mau, dengan sang waktu, sistem acuan hasil bentukan manusia, bukan murni seharusnya dari Tuhan.

Namun, pernahkah kita bertanya dan mencari tahu, kenapa kita “diharuskan” tunduk begitu saja oleh acuan sang dimensi waktu?

Standarisasi yang seharusnya dari-Nya: Jam, hari, minggu, bulan bahkan tahun seperti apa? apakah harus seperti ini? seperti apa yang diadopsi sistem dan peradaban?

Darimana asalnya acuan dasar yang jelas mempengaruhi pola pikir dan sikap kita menjalani kehidupan. Kenapa beberapa agama justru masih mengandalkan acuan perhitungan sang waktu yang bukan mainstream?

“Manipulasi terhadap sang waktu memang memiliki agenda dan motif terselubung dibalik kekuasaan. Meniadakan eksistensi Tuhan dengan petunjuk AlamNya, mengubah standarisasi lewat bentukan manusia yang kotor akan motif dan kepentingan.”

“Time is money”, waktu adalah uang. Perspektif populer, sengaja dipopulerkan oleh manusia yang menilai waktu sama berharganya dengan uang. Indoktrinasi populer milyaran manusia di muka bumi ini. Dengan menjadikan sang waktu setara dengan uang, berarti sama nilainya: untuk tidak disia-siakan, dihargai dengan tidak dibuang begitu saja.

Ketika sang waktu otomatis mengatur, dan mengharuskan kita untuk mengikuti ritme kehidupan, maka ia adalah acuan mendasar manusia dalam aktivitas sampai pola pikir kita dalam menghadapi kehidupan.

Kita diperbudak oleh sistem acuan bentukan manusia, yang saat itu memegang kendali arah sejarah dengan menjadi pemenang. Kita diperuntukkan nine to five rutinitas bekerja, kuliah ataupun sekolah.

5 hari kerja dengan 2 hari weekend. Pola statisme yang berulang-ulang tiap minggunya, demi pemenuhan yang dianggap ‘kehidupan’ oleh publik awam.

“… A calendar is a programming device. It programs the culture, the people, the society that uses it. It creates a feedback loop between the mind of the user and its program. The nature of the calendar determines the nature of the society.-Jose Arguelles “Stopping Time” (15)

Sampai di hari ini, sistem penanggalan mengadopsi sistem Gregorian yang manipulatif.

 Asal muasalnya yang lekat dengan aroma paganisme

Saat Julius Caesar menjadi kaisar pertama Romawi, kemudian mengubah status Republik menjadi kerajaan, sistem kalendar Julian diperkenalkan di tahun 45 SM. Sistem Julian sudah lekat lebih dulu dengan ajaran paganisme.

Di awal berlakunya sistem Julian, tahukah kamu pernah terdapat delapan hari dalam satu minggu?, dimulai Sabtu sebagai hari pertama dengan Jum’at (dies veneris) sebagai hari terakhir di tiap minggunya. Mithraisme, yang populer di Persia, mewabah di kalangan Romawi, mengajarkan konsep tujuh hari dalam seminggu dengan menandai nama-nama hari dengan dengan dewa-dewa planet.

Bumi datar bukanlah konspirasi terbesar manusia

Greeks dan Roman, pemegang kendali alur sejarahYunani (greeks) dengan Romawi sangat berpengaruh memegang kendali sejarah, sampai di hari ini.Days of The Gods, Theon hemerai. Istilah kaum Greeks dengan menyematkan nama dewa-dewa pujaan mereka.Kaum Romawi dengan menambahkan beberapa dewa — dewa lainnya, seperti Mars, Merkuri, Jove dan Saturn.

Sunday, hari Minggu Adalah “Sun day”. Latin menyebutnya dies solis, “day of the sun”, atau dalam Greek hemera heli(o)u.Senin, monday diambil dari mon(an)dae, “day of the moon”. Dalam latin, dies lunae.Dies Martis, “day of Mars” untuk hari Selasa, Tuesday. Diambil dari Mars, dewa perang kaum Romawi, dan Greeks mengenalnya dengan nama Ares.

Wednesday, Rabu. Dinukil dari wodnesdae, “Woden’s day” Inggris kuno. Woden adalah personifikasi dari dewa kaum Anglo-Saxon (Teutonic).Sedangkan dalam latin, dies Mercurii. “day of Mercury”.

Sang pembawa pesan kepada diantara para Dewa-dewa. Bagi Greeks “day of Hermes”, hemera Hermu. Diambil dari dewa yang juga kepercayaan Mesir kuno, Trimegistus Hermes.Hari Kamis, Thursday. “Thor’s day” bagi kaum Nordik kuno. Dies jovis atau “day of Jupiter” dalam latin, dalam greeks disebut dengan Hemera Dios, “day of Zeus”.Jum’at yang diambil dari “Freya’s day”, dewi cinta - kasih sayang dan kecantikan kaum Teuton dan Romawi Dalam latin disebut dies Veneris atau “Venus’s day”.Sang dewi yang memiliki tiga nama berbeda di masing-masing kepercayaan Nordik, Romawi dan Greeks: Freya, Venus dan Aphrodite.Sabtu, Saturday. Jelas tersirat makna yang diambil dari nama dewa Saturn.

Dewa kaum Romawi yang mengatur semua aturan di bumi dalam era kebahagiaan. Dalam Greeks, sama dengan Cronus (Kronos, Cronos), dewa yang mengatur alam semesta dan waktu.Dengan menyisipkan pesan — simbol yang mengandung unsur pagan dan okultisme, jelas menyiratkan tujuan terselubung meniadakan eksistensi kepercayaan agama terhadap Tuhan, dengan mempopulerkan nama-nama Paganisme.

Selanjutnya tentang manipulasi waktu disini.

Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *