“Ketika semua hal – keyakinan yang selama ini kita pahami, ternyata kontradiktif dengan realita dan fakta, maka disitulah Cognitive Dissonance terjadi.”

Perasaan yang tidak nyaman dalam diri kita, karena saling bertentangan; mau tak mau membuat kita lebih mengedepankan sisi ego (irasionalitas) ketimbang logika semestinya. Semua manusia, termasuk saya mengidap sindrom Cognitive Dissonance. Sadar tidak sadar.

Ketika pertama kali kita membuka mata dengan mempelajari fenomena bumi datar dan manipulasi yang cocok dengan realita nyatanya; otomatis sindrom ini muncul.

Keyakinan selama ini bahwa kita adalah makhluk yang logis dan terdidik; perlahan terganggu. Kita resah, bahwa selama ini apa yang kita yakini, ternyata banyak mengandung anomali – kesalahan. Yang semakin lama kita mendalami, justru semakin jelas susunan kepingan puzzle anomali, semakin nyata.

Bagi kita yang berusaha terus mencari, dan membuka diri tanpa ego, kita perlahan menyadarinya: “Ehm, selama ini ternyata apa yang kita yakini itu benar, kok malahan kontradiktif?,” namun bagi mereka yang tidak bisa mencoba untuk sadar, dan terbangun.

Mereka tidaklah peduli dengan sindrom ini.

Mereka masih meyakini bahwa semua teori – formulasi matematis, adalah faktanya. Mereka masih kadung terlanjur yakin, common sense dalam diri, terlampau jauh di bawah ‘intelektualitas’ paham – teori yang selama ini dipelajari sejak kecil.

Keyakinan mereka bahwa permukaan air bisa melengkung (curve) karena faktor gaya tarik gravitasi, mengalahkan logika, fakta dan realita yang mustahil kita bisa temukan, dan buktikan sendiri dengan mata kepala kita.

Karena sejak proses indoktrinasi; apa yang dicerna melalui sistem – statisme keseharian, diasumsikan satu hal yang benar.

Tiga metode mengatasi “cognitive dissonance”

“Change our beliefs.” – Mengubah apa yang kita yakini selama ini.
Kita harus belajar mengubah perlahan secara intrinsik, apa yang selama ini kita yakini selama ini,
ternyata tidak semuanya benar.

“Change our actions.” – Mengubah sikap – perilaku kita.
Kita harus belajar untuk mengubah sikap dan perilaku kita, dalam menindaklanjuti semua paham
yang selama ini kita yakini itu benar. Manusia yang dewasa, adalah manusia yang selalu belajar
dari kesalahan objektif yang dilakukan sebelumnya.

“Change the way we perceive our actions.” – Mengubah cara kita memahami sikap dan perilaku kita.
Kita mengubah cara kita memandang, apa yang kita perbuat selama ini dan kedepan nanti.

Bagan diagram: bagaimana menindaklanjuti sindrom Cognitive Dissonance dalam diri kita.

cognitve_dissonance_conspiracy_indonevia

Contoh sederhana sindrom ini terjadi, yang sering ditemui dalam keseharian kita yaitu: kebiasaan merokok.
Mayoritas perokok adalah kalangan pria yang cukup mampu secara finansial, mereka sangat sadar bahwa merokok itu berbahaya.

Namun, mereka juga sadar bahwa mereka lebih mengedepankan ego – irasionalitas ketimbang fakta:
bahwa dalam sebatang rokok, jelas-jelas mengandung ribuan zat kimia yang berbahaya bagi kesehatan.

Apakah kamu mau terus-terusan mengidap sindrom ini? atau mencoba untuk menyadari, dan memperbaikinya?
Semua pilihan hidup, ada dalam kontrol diri kita masing-masing. Sebagai makhluk yang sempurna, spesial.

Kalau konspirasi itu nyata dalam realita, sudah saatnya cognitive dissonance harus dipinggirkan demi akal sehat!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *