situs konspirasi indonesia

Propaganda dan media massa memang tak bisa terpisahkan, lewat media massa inilah kemudian propaganda bisa terlaksana dengan baik terlepas itu oleh media audio, visual, ataupun audio visual.

Media massa memang memiliki pengaruh yang sangat sentral dalam pembentukan opini publik sehingga dalam hal ini informasi yang diberikan dapat mempengaruhi keadaan komunikasi sosial pada masyarakat.

Masyarakat yang tidak tahu apa-apa banyak yang menelan mentah-mentah berbagai informasi yang diberitakan pada sebuah media, padahal di sisi lain berita tersebut ada kemungkinan memiliki ketimpangan yang harus diverifikasi. Berbagai informasi yang kemudian masuk tanpa mengindahkan sisi objektivitas itulah yang kemudian menjadi permasalahan.

Propaganda yang tak berimbang tentunya memiliki kepentingan-kepentingan yang biasanya berkenaan dengan kepentingan politik, bertujuan untuk menjatuhkan figur atau tokoh-tokoh tertentu dan berusaha menaikan pamor tokoh tertentu.

Saya pernah membahas implementasi dan juga pembahasan lainnya perkara propaganda yang dilakukan penguasa saat ini.

Diantaranya: Habisnya Bahan Bakar Bocornya Tangki Pencitraan, Mau Apalagi?Media Politik Pencitraan Menggerus Nalar Bangsa, Akun Power Point Sihir Untuk RakyatKekacauan Glorifikasi Dan Lipstiknya Bernama Pemuja.

Sebagai gambarannya adalah ketika Pemilu berlangsung para kontestan dengan menggunakan media berusaha mepromosikan dirinya melalui partai yang mengusungnya. Dengan begitu mereka berusaha mempropagandakan dirinya agar mendapat simpati masyarakat sehingga banyak yang memilih.

Kemudian untuk memperoleh suara yang banyak, tak sedikit diantara mereka yang melakukan praktik Black Propaganda.  Menggunakan cara-cara yang licik dengan menghasut dan mengadu domba.

BACA JUGA Siapakah Sang Pencetus Istilah “Propaganda”

Propaganda = Bentuk Komunikasi Massa

Propaganda merupakan salah satu bentuk komunikasi massa. Propaganda sendiri berasal dari kata propagare artinya menyebar, berkembang, mekar. Carl I Hovlan menambahkan bahwa propaganda merupakan usaha untuk merumuskan secara tegar azas-azas penyebaran informasi serta pembentukan opini dan sikap.

Propaganda timbul dari kalimat sacra congregatio de propaganda fide atau dari kata Congregatio de propaganda fide atau Congregation for the Propagandation of Faith tahun 1622 ketika Paul Grogelius ke 15 mendirikan organisasi yang bertujuan mengembangkan dan mengembangkannya agama katolilk Roma di Italia dan Negara lain.

Karya Klasik Lasswell, “Propaganda Technique in the World war,” (1927) yang pertama kali berusaha dengan hati-hati mendefenisikan Propaganda: “Propaganda semata merujuk pada control opini dengan symbol-simbol penting, atau berbicara secara lebih konkret dan kurang akurat melalui cerita, rumor, berita, gambar, atau bentuk-bentuk komunikasi sosial lainnya.

(Seperti yang di kutip oleh Werner J. Severin –Jamesa W Tankard ,Jr. Teori Komunikasi, dalam Teori Komunikasi: Sejarah, Metode, Terapan di Dalam Media Massa. Hal.128)

Ya, kontrol opini atau penggiringan isu. Manipulasi alam bawah sadar para pembaca dengan terus memproduksi narasi, baik tendensius, aroma stigma, hingga pembunuhan karakter.

Politisi korban headline media

Seperti yang disebutkan dalam rangkaian penjelasan di atas, “Propaganda semata merujuk pada kontrol opini dengan simbol-simbol penting, atau berbicara secara lebih konkret dan kurang akurat melalui cerita, rumor, berita, gambar, atau bentuk-bentuk komunikasi sosial lainnya”.

Sebelum penetapan resmi calon presiden dan wakil presiden yang akan ikut serta dalam kontestasi politik 2019, media sosial menjadi sangat ramai dengan berbagai opini hingga tebak-tebakan yang sangat rumit. Pihak lawan politik menggunakan media sebagai alat penggiringan opini, bertujuan membuat gejolak media sosial terutama akar rumput merespon. Kemudian para politisi atau kader parpol begitu liar menafsirkan headline media, seakan berita media adalah berita resmi dari sejumlah partai oposisi.

Mengkondisikan saling serang argumen dengan narasi media, yang padahal belum tentu benar apa tidak  yang tertulis dalam media. Tidak melihat narasi utuh berita, apalagi memperhatikan perkara kaidah berita, seperti sumber kutipan, wawancara, atau setidaknya meredam strategi yang tersimpan rapih di balik meja pertarungan.

Jaring media ditebar dan mengkondisikan yang seharusnya bisa bersatu dibuat tidak bersatu. Rangkaian narasi saling menyudutkan ditujukan pada tiap parpol yang menjadi oposisi. Inilah teknik penggiringan opini, ditambah simpatisan parpol yang aktif di medsos juga berkomentar, seakan membenarkan narasi headline, menganggap bahwa apa yang tertera di headline adalah kebenaran, emosional, hingga brutal menyerang sesama oposisi. Kalian ini adalah korban, dan masuk dalam pola permainan dengan tools propaganda bernama media.

Napoleon Bonaparte, perang adalah informasi.

Tetapi melihat para elit parpol yang menjadi korban disinformasi tentu sangat disayangkan. Hal inilah yang diinginkan oleh lawan politik. Dengan mudahnya tools propganda ini mematikan fungsi nalar dan juga insting dalam berperang. Hanyut dalam “teks” sedang “konteks” serta esensi pertarungan di darat mengalami ketimpangan, akibat menjadi seperti paradok.

Ingin memenangkan kontestasi, tetapi sibuk saing cakar karena teknik propaganda yang masif. Teknik ini umumnya terkait dengan kesalahan logika, manipulasi psikologis, penipuan langsung atau tidak langsung, teknik retoris dan propaganda, dan sering melibatkan eksploitasi informasi atau sudut pandang pribadi, dengan mendorong orang lain atau kelompok untuk tidak fokus ke suatu hal dengan mengalihkan perhatian ke hal lain.

Selain itu, outlet berita online mainstream ikut dilibatkan sebagai senjata pamungkas, menggunakan teknik framing – membingkai sebuah peristiwa dengan cara pandang yang digunakan wartawan atau media massa ketika menyeleksi isu dan menulis berita.

Metode framing disajikan sesuai realitas dimana kebenarannya tidak bisa dipungkiri, tetapi dibelokkan secara halus, dengan memberikan penonjolan pada aspek tertentu dan menyembunyikan beberapa fakta yang bisa merugikan.

Manipulasi media adalah senjata propaganda modern dalam mempengaruhi publik, umumnya digunakan dalam ranah politik untuk memikat pemilih, menggunakan retorika, manipulasi opini publik, berita palsu (hoax), iklan, aktivisme, perang psikologis, public relations (PR), atau framing media massa.

Aktivitasnya menggunakan teknik astroturfing (strategi kampanye atau promosi terselubung), clickbait (digunakan oleh outlet berita), gangguan (pengalihan isu), troll (mengalihkan perhatian hingga keluar dari konteks pembahasan), ad populum (menyesatkan pikiran), manipulasi opini publik (diciptakan oleh aktor-aktor politik), dan teknik lainnya yang digerakan secara terorganisir.

Kekonyolan ini tetap terjadi, buta dengan kontestasi dengan kesepakatan nyata, namun masih saja ada para politisi yang konon ingin memperbaiki bangsa saling serang padahal masih satu sekoci.

Ada satu parpol yang menjadi bulan-bulanan jagad maya oposisi, dengan stigma “Abu-abu”, lantas merasa begitu risih dengan keberadaannya. Tetapi, tidak melihat seberapa besar lawan politik di depan mata. Merasa kuat dengan berjuang sendiri adalah kesombongan. Padahal informasi yang diperoleh juga dengan propaganda massiv akun-akun siluman yang mengkondisikan agar oposisi tidak bersatu, karena hal itulah yang sebetulnya ditakutkan musuh politik.

Kalaupun musuh, maka cerdaslah, Ini kancah politik, segala kemungkinan itu akan terjadi. Bahwa pertarungan selalu penuh dengan hitung-hitungan, jangan merasa besar sendiri, itu yang selalu saya katakan di akun media sosial saya.

Dalam pertempuran apalagi politik, maka saya sering katakan, “Rangkul satu musuh untuk menendang satu musuh yang lebih kuat”. Ya, tetapi dalam politik tak ada musuh abadi, bahkan “Bersikap adil terhadap musuh” adalah prinsip bagi saya pribadi.

Pendukung “Die hard” yang juga korban media

Gegap gempita nuansa pilpres sudah mulai terjadi. Tetapi terlalu dini untuk berbicara apakah sudah ada di atas angin. Mesin media belum panas, ini baru awal. Berbagai metode propaganda akan dilakukan. Yah, mulai dari pecah suara, meramu gesekan, framing busuk, pembunuhan karakter, hingga fitnah dan hoax yang akan semakin masif.

Secara bahasa arti propaganda adalah menyebarkan atau menyebarluaskan, awalnya bermakna positif. Kata “propaganda” , aslinya berasal dari badan administrasi baru Gereja Katolik (jemaat) yang dibentuk pada tahun 1622, yang disebut Congregatio de Propaganda Fide (Kongres Untuk Menyebarkan Iman). Kegiatannya menyebarkan iman Katolik ke negara-negara non-Katolik.

Sejak tahun 1790-an, istilah itu mulai digunakan untuk merujuk pada propaganda dalam kegiatan-kegiatan sekuler.  Istilah ini mulai mendapat konotasi yang buruk atau negatif pada pertengahan abad ke-19, ketika digunakan dalam lingkup politik. Propaganda ini digunakan dalam skala besar dan terorganisir pertama kali disebabkan oleh pecahnya Perang Dunia I.

Kekalahan Jerman atas Inggris di Perang Dunia Pertama tidak lepas dari peran propaganda yang dilancarkan Inggris, meruntuhkan semangat pasukan Jerman. Dalam Mein Kampf (buku yang dianggap paling berbahaya di dunia), Hitler menjelaskan teorinya tentang propaganda: “Hitler … tidak membatasi apa yang bisa dilakukan oleh propaganda; orang akan percaya apa pun, asalkan mereka diberitahu itu sangat sering dan cukup tegas, dan oposisi akan dibungkam dan tertahan dalam kesedihan.”

Ini yang ditakutkan, terbiasa mengisi memori kepala dengan kebencian tanpa nalar, membuat akhirnya sebagian orang tak bisa membedakan mana jebakan mana yang harus diolah atau menjadi bagian dari perjuangan.

Mungkin akan dimunculkan pemberitaan media dengan tak lagi menyerang kubu lawan secara frontal, tetapi melakukan pembusukan “orang yang didukung” dengan narasi yang diciptakan, hingga semangat para pendukung menjadi lemah, putus asa, hingga akhirnya kemungkinan terburuk adalah pindah dukungan.

situs konspirasi indonesia konspirasi id

Konyolnya lagi, para pendukung garis beton ini begitu taklid buta. Hingga narasi media disamber atau dilahap, kemudian disebarluaskan tanpa melihat isi pemberitaan. Ketika isinya kontra dengan headline, maka bersiaplah disebut “faqir quota”. Ini sering terjadi, bahkan jangankan berita politik, berita ranah entertain saja kadang pendukung oposisi ini begitu mudah berteriak tanpa melihat isi. Ini jelas pola jebakan betmen dan terus diulang tanpa mau evaluasi.

Komentar yang berapi-api dari para pendukung oposisi ini saat “re-quote” kicau media, tanpa membaca isi, modal capture tanpa link, seperti membuat jebakan betmen untuk diri sendiri. Belum lagi ada satu tim sorai parpol yang sedang kisuh internal, ninyir dari media untuk menyerang parpolnya sendiri, tapi seakan merasa benar apa yang dikatakan media. Seperti headline media itu mereka anggap sabda saja, atau wahyu yang seratus persen berupa pesan.

Padahal hanya berita, yang harus dibaca terlebih dahulu, kemudian konfirmasi pemberitaan, bukan meledak-ledak. Media itu ada editor ada redaksi, apakah percaya dengan independensi sebuah media?

Seperti saat ini, narasi ulama atau berita tentang ulama yang menjadi pasangan petahana keluar dari media. Lantas sebagian pendukung oposisi ini seakan-akan percaya bahwa berita itu adalah seratus persen ucapan ulama. Tidak pernah berpikir bahwa disitu ada pola yang memaksa kubu oposisi untuk menyalak liar, menyudutkan ulama dengan bermodal narasi headline.

Seorang ahli ilmu neural (neurosains), Albert Maoukheiber, menjelaskan mengapa otak kita cenderung dapat terpengaruh, ia memilah-milah informasi yang diterimanya berdasarkan heuristik, yaitu jalan pintas untuk perkiraan cara memecahkan masalah. Terkadang mekanisme penyaringan ini salah dan terjadi kesalahan.

Sebuah informasi dan berita yang kita terima akan menjadi salah atau benar tergantung bagaimana otak menerimanya. Ketika informasi bertentangan dengan apa yang ada di dalam otak, kita akan lebih waspada terhadap setiap fakta yang memperkuatnya.

Singkatnya, otak akan menyortir setiap fakta hingga menjadi kebenaran sesuai dengan selera otak. Ketika informasi hadir, kita akan menilainya secara spontan berdasarkan pendapat, kita tidak bisa memperlakukan informasi secara objektif sebelum memverifikasinya secara mendalam.

Sebagai penutup, hendaknya evaluasi diri agar tak mudah termakan propaganda media, yang bisa jadi bumerang padahal niat untuk menyampaikannya baik. Apalagi asal share informasi hanya bermodal headline yang kebetulan menguntungkan argumen , atau me-RT berita tanpa melihat dampak apa kedepannya terutama bagi kesolidan.

Sebab jika kita membaca apa yang disampaikan Megan Burns dari Carnegie Mellon University, ada 5 hal yang diperlukan jika terlibat dalam perang informasi, dan mungkin ini tengah dilakukan oleh lawan politik oposisi:

Pertama. Pengumpulan informasi. Semakin baik informasi yang dimiliki, maka perencanaan pertempuran juga akan semakin baik, sehingga bisa memberikan hasil peperangan yang baik juga.

Kedua. Pengiriman informasi. Mempunyai informasi itu bagus, tapi tak terlalu berarti jika tidak mempunyai cara, alat, dan kemampuan untuk mengirimkan informasi itu ke pihak yang tepat.

Ketiga. Perlindungan informasi. Informasi yang dimiliki harus dilindungi agar tidak bisa diakses oleh lawan.

Keempat. Manipulasi informasi. Informasi diubah sedemikian rupa agar musuh tersesat.

Kelima. Penggangguan, pelemahan, dan penolakan informasi. Termasuk memalsukan informasi sehingga sistem musuh memilih keputusan yang salah, dan juga memblokade arus informasi.

Apa pun dan bagaimana pun perang informasi itu akan berlangsung, perang informasi bukanlah tujuan. Seperti peperangan jenis lain, perang informasi adalah sarana untuk mencapai tujuan. Namun berbeda dengan perang yang lain, perang informasi lebih mengarah ke upaya untuk mengalahkan strategi musuh ketimbang menumpas pasukan musuh.

Sebagian orang membayangkan perang informasi itu berupa pertempuran siber saling serang antar pasukan ahli teknologi informasi yang saling bermusuhan secara virtual. Perkiraan itu tidak tepat. Perang informasi merupakan gabungan antara perang elektronik, perang siber dan operasi psikologi yang secara bersamaan berhimpun dalam satu organisasi pertempuran.

Sekian.

Artikel ini sebelumnya sudah dirilis di paradok.hol.es oleh Jack Vardan, tanpa mengurangi isi – esensi dari artikel sebelumnya.

memahami-trik-berjudul-controlled-opposition

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *