situs konspirasi indonesia deceptive progrramming elit global

Anjritt! lu peramal ya! kok bisa dari omong kosong konspirasi yang sering lo bacotin, itu satu-satu jadi kenyataan dah! cocoklogi lu ya!”

Cepat atau lambat caci maki bercampur penasaran terlontar dari bacot mereka, teman dekat, saudara atau manusia-manusia awam sekelilingmu.

Well, kami bukan sotoy, kami juga bukan mendului qada – qadr, kami hanya menapak tilas kembali apa yang mereka cetuskan via ramalan jitu yang disebut dengan predictive programming.

Predictive programming, pemograman prediktif persis sebuah kisah, sebuah ramalan yang cepat – lambat di kemudian hari bisa menjadi kenyataaan.

Pemograman prediktif (predictive programming) bisa dianggap bentuk terselubung manipulasi atau pengendalian pikiran, secara bertahap menggunakan bentuk pola variatif dan repetisi.

Mereka merencanakan dengan matang, bukan sekedar kebetulan, ketika semua pesan – pesan predictive programming yang dilancarkan sudah akrab – lumrah didengar publik, maka kecenderungan publik ‘seakan’ sudah terbiasa mengetahui hal tersebut; sehingga publik tidak frontal keras menolaknya.

Selayaknya deja vu yang membius mereka bukan? hebat memang.

Pesan-pesan predictive programming menyusup halus via media, buku, film dan lagu-lagu yang sengaja dipopulerkan, namun ada juga deceptive programming yang bahkan terang-terangan diperlihatkan.

Dalam Secret Teaching Of All Ages karangan Manly P. Hall bilang, “Mereka berbicara lewat simbologi, numerologi dan gemetria, dalam menyampaikan pesan ke sesama secret society.”

Secret society membaca simbologi dengan memprosesnya via otak kiri lebih dulu, barulah otak kanan. Hal yang tidak lumrah bagi miliaran manusia awam saat mereka melihat simbol yang pastinya visual, diproses via otak kanan terlebih dahulu. Sebaliknya dengan mereka.”

Karena memang secret society terdiri dari berbagai elemen figur publik kalangan atas, intelektual dan elit sejak ribuan tahun lalu. Politisi, filsuf, matematikawan, akademisi, publik figur dan sebagainya.

Sampai tibalah kejadian yang diprediksi mereka terjadi, maka publik akan lebih akrab dengan apa yang jauh hari sebelumnya mereka pernah lihat – dengar, dengan menganggapnya sebagai hal yang alamiah dan lumrah; sehingga mengurangi tingkat resistensi (penolakan) besar oleh publik.

“If and when these changes are put through, the public will already be familiarized with them and will accept them as ‘natural progressions’; thus lessening any possible public resistance and commotion.”

Peran Media Massa Sebagai Instrumen Dasar

Predictive Programming digunakan media secara halus, pelan tanpa sadar, untuk memperkenalkan publik dengan perubahan – agenda terkait kebijakan terhadap masyarakat yang akan dilaksanakan dalam waktu dekat. Media massa yang dimiliki para pengusaha – elit, memang berkolaborasi dengan instrumen dasar ini; apapun format media tersebut.

Jadi, ketika tiba masanya agenda itu harus berjalan, maka publik perlahan mengiyakan apa yang dicekokkan sebelumnya, publik akan merasa familiar, tidak merasa aneh, karena seakan itu adalah sebuah kemajuan alami, lumrah pikir mereka. Sehingga mengurangi tingkat penolakan yang berujung pada keributan di tatanan publik.

predictive-programming-ramalan-jitu-elit-global

Media untuk memperkenalkan publik dengan perubahan-perubahan kemasyarakatan terencana yang akan dilaksanakan.

Seakan semua yang tertera dengan terselubung ataupun gamblang, menjadi kejadian satu per satu di suatu masa yang akan datang. Beruntung, bagi mereka yang menemukannya, sadar dengan pesan yang tersirat.

Bila MK Ultra yang beroperasi dari periode tahun 1953 sampai 1973 sudah menjadi rahasia umum, deceptive programming adalah penyempurnaan teknik non frontal, dengan memanipulasi opini – persepsi publik secara halus, dicekokkan ke alam bawah sadar manusia awam via teks, audio, video dan berbagai macam konten interaktif yang setiap harinya lalu lalang dikonsumsi miliaran publik.

Diperkuat bahwa perang psikis ini memang tindakan pencegahan dengan memanipulasi – mengontrol perilaku publik.

Predictive programming therefore may be considered as a veiled form of preemptive mass manipulation or mind control.

Televisi sebagai penyebar deceptive programming, harus diisi dengan konten-konten film, musik, iklan, talk show yang wajib mengandung pesan terselubung mereka. Lagu-lagu hits dengan bahasa rahasia dalam lirik – nadanya, belum lagi novel – bacaan yang menyisipkan predictive programming di dalamnya.

Alan Watt, pakar yang mendalami predictive programming dan mind control menyampaikan, “Predictive programming, the power of suggestion using the media of fiction to create a desired outcome.”

Elit menghabiskan biaya yang sangat luar biasa banyaknya untuk kepentingan propaganda mereka. Hollywood, Billboard Music Chart, Oscar – Grammy Awards hanyalah pemanis formalitas dalam bentuk penghargaan.

BACA JUGA Pabrik ‘Mind Control’ yang Bermula dari Tavistock Insitute

“They Playing God…”

Mereka memang ingin berperan selayaknya seorang Tuhan!

Ketika publik sebagian ngeh namun tetap menerimanya sebagai hal yang biasa saja, otomatis ada juga sebagian publik yang tidak lagi mempercayai keyakinan diri dalam agamanya, seakan duniawi itu justru lebih eksakta.

Keyakinan dalam diri, keimanan kita menyebutnya; tergerus dan kemudian digantikan oleh peran mereka sebagai peramal jitu di masa nanti, selayakanya Tuhan, dalam menentukan fase kehidupan makhluknya.

Bermain Tuhan, sampai publik kepalang yakin; mempercayai, bahwa apa yang hanya bisa dilihat di depan mata, itulah yang nyata. Kontekstual berpikir, menggeser miring dengan meniadakan eksistensi Sang Pencipta yang sebenarnya. Predictive programming perlahan menggiring mereka; untuk tidak lagi meyakinkan diri mereka terhadap sang Pencipta.

Serge Monast berbicara di tahun 1994 tentang bagaimana propaganda NASA dengan Blue Beam Project. 

Yang disengajakan untuk melucuti keyakinan iman manusia, bahwa agama (keyakinan) yang mereka anut adalah salah besar dan tidak klop dengan realita (palsu, yang sebenarnya mereka agendakan), dengan kesimpulan bahwa manusia hanyalah makhluk evolusi, tidaklah spesial.

The first step concerns the breakdown of all archeological knowledge.  It deals with the set-up of earthquakes at certain precise locations of the planet where supposedly new discoveries will suddenly explain – for them – the wrong meaning of all major religions’ basic doctrines…”

“…this classification used to make the population believe that all religious doctrines have been misunderstood and misinterpreted have already started with the field of psychological preparation for populations for the first step has been prepared through films like 2001 a Space Odessy; the series, Star Trek; Star Wars which deals with space invasion and space protection; and the last film, Jurassic Park, dealing with the theory of evolution.

Pelbagai kebijakan global direncanakan cukup matang secara komprehensif, rentetan episode demi episode di tiap jamannya. Mereka terus-terusan menakuti publik dengan perannya sebagai ‘Tuhan Palsu.’

“Problem, Reaction and Solution.”

Dengan memainkan pola klasik Hegelian dialectic, deceptive programming menyihir publik; untuk terus tetap di bawah kontrol media mainstream. Mereka yang memproduksi sebuah narasi yang dihasilkan dibalik dapur para elit, mereka pula yang sudah bersiap dengan sebuah solusi yang mau tak mau, itulah pilihannya.

Problem + Reaction = Solution.

deceptive programming ramalan jitu elit global
Thesis, Anti-Thesis dan kemudian Synthesis

Mereka sudah memiliki obat penawarnya jauh hari sebelum penyakit (problem) itu bergulir massal ke publik.

Mereka sudah memprediksi solusi akhirannya akan seperti apa, dan ini semua skenario apik, kaki – tangan berbagai elemen bermain. Target mereka hanyalah kepentingan golongan, keuntungan; dengan menjadikan rakyat sebagai sapi perah, korban utama.

Reaksi yang dihasilkan publik atas isu – narasi yang telah terjadi sangat beragam, yang sayangnnya di ujung jalan sana mereka juga sudah mempersiapkan, menawarkan solusi ampuh, ibarat pain killer yang seakan ampuh; sekali lagi, hanya solusi yang menguntungkan golongan elit.

Bagaimana dongeng bisnis imajiner satelit keberapa kalinya mengelabui publik awam di Indonesia, setelah kurang lebih 5 triliun biaya pembelian bisnis imajiner satelit, lagi-lagi rakyat ditakuti dengan sebuah permasalahan; bahwa kita terkena deadline perpanjangan kontrak dan diwajibkan membayarkan (lagi) senilai US$ 20 juta kepada mereka.

“Pada 6 Juni 2018, LCIA memutuskan, Kementerian Pertahanan berutang kepada Avanti sebesar US$20 juta dan Indonesia diberi waktu sampai 31 Juli untuk melunasi pembayaran.” – Viva.co.id

Pemerintah melancarkan isu – narasi yang memang dibuat krusial, yang kemudian menunggu respon publik, kemudian mereka menawarkan pemanjangan kontrak sewa atau memesan kembali, perpanjangan kontrak yang diambil dari milyaran – triliunan pajak rakyat.

Mereka berleha enteng mengajukan sebuah problem, menunggu reaksi, ditutup dengan solusi; sebuah solusi yang didapatkan dari peluh keringat rakyat, yang dipungut melalui pajak untuk dibelanjakan proyek imajiner itu.

“Predictive programming is a tactic used by think tanks and groups around the world for their own ends, and it is about inciting an action that causes a predicted reaction.”

Predictive Programming yang Menjadi Kenyataan

Satu-satunya cara untuk membuktikan keshahihan predictive programming adalah dengan tibanya sang waktu. Sebelum itu terjadi, cepat atau lambat, publik sulit ngeh dengan mempercayai sebuah predictive programming.

Berbagai kegilaan yang terlontar dari ucapan conspiracy realist hanya bisa dibuktikan oleh berjalannya sang waktu ke depan. Hanya itu yang bisa membuktikan, apakah kita sekumpulan manusia paranoid? atau tidak?

Tragedi WTC 9/11 akhirnya terbongkar massal di saat teknologi itu sendiri tiba ketika Youtube hadir, yang bertubi-tubi menelanjangi bodoh, gagal dan rakusnya pemerintahan George Bush kala itu. Mereka memanipulasi dengan mengedit video demi video agar memperkuat rasa kebencian publik Amerika terhadap kaum Islam.

Dibawah ini beberapa predictive programming yang kami rangkum:

Novel “1984” oleh George Orwell

“The Big Brother is Watching You.” tulis George Orwell dalam novel terbitan bulan Juni 1949, yang dikemas dalam judul “1984.” Winston Smith, pria berumur 39 tahun adalah pemeran utama dalam cerita yang bekerja untuk pemerintahan, ia mengalami masa kegelapan dimana sistem mengharuskan dirinya dan publik lainnya untuk terus mengikuti perintah demi perintah dalam sistem yang otoriter.

deceptive-programming-ramalan-jitu-elit-global
George Orwell, “1984” via SparkNote

Prediksi Orwell yang ‘kebetulan’ menjadi kenyataan:

• Endless war, peperangan yang tiada berakhir, terus menerus maraton. Bukankah itu yang terjadi?
Setelah PD II, hadirlah perang Vietnam, Irak, Afghanistan, Libya, Suriah dan seterusnya.

• Otoritas bebas membuat sebuah kebohongan, memanipulasi sejarah dan membiarkan kebohongan menjadi sebuah patron yang nilainya sama dengan sebuah kebenaran, dan sebaliknya. Yang mereka kontrol via kaki tangan dan propaganda di media massa.

• Pemerintah akan selalu memonitor pergerakan publiknya lewat layar televisi yang sifatnya dua arah (interaktif), sampai ke hal terkecil sekalipun, disinilah ia mempopulerkan dogma “The Big Brother Is Watching You.” Publik diharuskan mengisi otak mereka dengan semua arahan – propaganda pemerintah tanpa mencoba untuk membantahnya.

predictive programming ramalan jitu elit global
“Freedom is slavery, War is peace, Ignorance is strength.” – Orwell, 1984.

• Ada banyak peraturan satu arah yang dikeluarkan pemerintah, bila berani melanggarnya, maka polisi beserta instrumen keamanan negara berhak melawan – menahan publik atas dalih keamanan negara. Winston Smith bahkan rela untuk menjawab bahwa dua ditambah dua adalah lima, ketika ia tidak tahan lagi dengan penyiksaan fisik kepadanya. Pemerintah
juga menjelaskan: bahwa mereka sangat menginginkan kontrol penuh terhadap publik.

Negara-negara seperti India, Cina dan Inggris menurut Jean Seaton, profesor sejarah media di Universitas Westminster yang juga direktur di Orwell Foundation, adalah negara-negara yang menyerupai penggambaran situasi dalam novel “1984.”

The Simpsons

Di tahun 1994 The Simpsons melemparkan satu adegan dimana daging kuda menjadi sebuah resep rahasia untuk olahan makanan yang lezat. Kemudian di tahun 1995 Margie, ibunya Bart membocorkan bahwa suatu telepon genggam akan mempunyai fitur video streaming.

deceptive programming ramalan jitu elit global
Via Buzzfeed

deceptive programming ramalan jitu elit global

Bagaimana Donald Trump sudah diprediksikan? kebetulan?

Dalam episode ‘Politically Inept, With Homer Simpson’ tahun 2013, sudah memperkirakan Yunani akan bangkrut? dengan adanya running text dalam adegan dibawah ini:

predictive programming ramalan jitu elit global
“Europe puts greece on EBAY…”

Yang terbaru, sembilan belas tahun lalu, di tahun 1998, The Simpsons sudah memprediksi bahwa Disney akan diakuisisi 20th Century Fox. Kenyataanya? bulan Desember 2017 resmilah sudah Fox menjadi bagian dari Disney.

deceptive-programming-ramalan-jitu-elit-global
Ramalan jitu ala kartun! edan!

Kontroversi “Ghost Fleet” dan Prabowo Subianto

Novel yang menjadi kontroversi berbuah ejekan ke Prabowo Subianto terkait kesadaran beliau bahwa predictive programming itu eksis. Sebagai eks pimpinan satuan elit Kopassus, jelas ia tidak sekedar bercuap-cuap, karena ia pasti sudah mempelajari pola intelijen bekerja dan berbicara dalam predictive programming.

“Ghost Fleet adalah perjalanan yang menggetarkan melalui hari esok yang masuk akal yang sangat menakutkan. Bukan hanya buku bermutu, tapi buku bermutu bagi mereka yang tahu apa yang mereka bicarakan. Bersiaplah untuk tidak tidur. ” —DB WEISS, penulis dan produser eksekutif Game of Thrones HBO.

predictive programming ramalan jitu elit global

Setidaknya ada tujuh kata “Indonesia” disebut dalam buku tersebut, berikut salah satunya: 

“The joint China-U.S. exercises to help bring order to the waters around the former Republic of Indonesia are a sign our future together will be a strong one,” said General Wu. “As for our neighbors to the north, I cannot say the same.”

“Latihan gabungan China-A.S. untuk membantu menertibkan perairan sekitar bekas Republik Indonesia adalah tanda masa depan kita bersama akan menjadi kuat, ” kata Jenderal Wu. “Adapun tetangga kami di utara, saya tidak bisa katakan sama.”

BACA JUGA Bagaimana Taktik Cina Menguasai Indonesia dan Negara Tujuannya

Pertanyaannya, mungkinkah seorang pakar intelejen dan revolusi digital lulusan Harvard, yang bahkan disebut oleh majalah Foreign Policy ini sebagai satu dari 100 pemikir Global Teratas Dunia ini, menuliskan buku sekedar fiksi dan isapan jempol?

Fakta lainnnya, P.W Singer juga seorang ilmuwan yang bekerja untuk komando pendidikan dan latihan Angkatan Darat Amerika Serikat.

Masihkah mau kita untuk terlelap, ketika ada nama sebuah negara dimana kita berada ternyata ‘diprediksi’ akan hilang?

Bersambung…

situs konspirasi indonesia konspirasi id

REFERENSI VIA:

BBC / Bibliotecapleyades / Theguardian / liceosciasciafermi.gov