Pernahkah kalian bertanya begini:

“Apakah yang selama dua belas tahun gw lakuin semasa di bangku sekolah, sudah seharusnya begini dan benar adanya?.”

Tapi mohon, jangan tanyakan hal ini kepada manusia-manusia kerdil yang memiliki worldview yang sempit. Ataupun orangtua kalian! pastilah berakhir dengan cemoohan, bahwa itu adalah pertanyaan bodoh menurutnya.

Kita mulai dengan manusia yang menguasai bisnis perminyakan, yang juga petinggi di dalam Bilderberg Group :

“I don’t want nation of thinkers. I want a nation of workers.” – John D. Rockefeller.

terungkap_rockefeller_dibalik_sistem_pendidikan_dunia

Anak dari William Avery Rockefeller, John D. Rockefeller, tidak menginginkan sebuah generasi mayoritas negaranya berisikan para pemikir hebat nan kritis, ia menginginkan generasi yang bermental sebagai pekerja – pesuruh. Sadis!

Di awal abad ke-20 Yayasan Rockefeller dan Carnegie mengalokasikan dana sosial dengan kuantitas yang sangat besar, demi berperan dalam bidang edukasi, dan pendidikan sosial. Mereka berdiri penuh mendukung “National Education Association.”

Gelontoran pundi-pundi finansial yang tak terbatas, ditujukan untuk “membelokkan” konsep sistem tradisional di saat itu, menuju sistem pembaharuan, yang diagungkan dengan mengedepankan nilai – nilai berstandarisasi, ketimbang pemikiran kritis.

Berdalih kuat dengan isu manajemen yang lebih mumpuni dan saintifik, Rockefeller dengan kekuatan finansialnya, meyakinkan bahwa konsepnya lebih modern dan akan berhasil di masa depan nantinya.

Dibantu oleh Yayasan Ford (Ford Foundation), andil mereka membuahkan hasil, dengan sistem yang kita masih gunakan sampai di hari ini, semua adalah hasil dari kongkalikong mereka.

Bahkan peran mereka dalam mengontrol UNESCO dibalik layar sukses menjadikan modern education alat jualan yang disodorkan – diterapkan secara global di seluruh lembaga formal dunia!

•••

Pijakan Awal dengan “The General Education Board”

Konsep pendidikan yang sekarang berlaku di Amerika berkiblat sejak sekitar seratus tahun lalu, di tahun 1903, John D. Rockefeller mendirikan “The General Education Board.” Lembaga ini yang menyokong penuh finansial – pendanaan kepada sekolah-sekolah di berbagai negara bagian, dengan mempromosikan fungsi negara bagian (state) sebagai pengontrol perkembangan sekolah umum (public school).

Citra yang dikembangkan dan dipandang umum saat itu dengan menjadikan Lincoln School sebagai salah satu lembaga pendidikan revolusioner untuk tingkat dasar dan lanjutan di Amerika Serikat.

Rockefeller diketahui memiliki kontrol atas ensiklopedia populer acuan publik dunia, The Encyclopedia Britannica beserta Merriam Webster.

terungkap_rockefeller_dibalik_sistem_edukasi_dunia
Rockefeller dengan General Education Board

Peran Rockefeller tidak hanya sekedar businessman yang haus kekuasaan dalam pendidikan dan perminyakan, asisten personalnya, Paul Volcker ternyata pernah didudukkannya menjadi salah satu petinggi (chairman)  Federal Bank Reserve. Salah satu bank sentral yang kontroversial dan dimiliki sekelompok elit (swastanisasi).

“Di tahun 1600-an semua konsep metode sistem pendidikan publik berlatar belakang mengutamakan hal pendekatan religius, bersumber atas acuan dari Yunani (Greeks) dan Romawi (Roman).”

Tidak Pernah Bertujuan untuk Kritis

“General Education Board” bentukan John D. Rockefeller sangat tidak tertarik untuk mengembangkan sisi pemikiran kritis pada konsep dasar metode sistemnya, mereka menginginkan untuk mengatur perilaku anak-anak sebagai sosok yang dapat diandalkan (reliable), mudah diprediksi (predictable), dan dibentuk sebagai warga negara yang patuh dan tunduk terhadap aturan dari pemegang otorisasi tertinggi nantinya, yakni pemerintah.

terungkap_rockefeller_dibalik_dunia_pendidikan

John Gatto, mantan guru yang pernah meraih penghargaan menambahkan, “School was looked upon the from the first part of the 20th Century as a branch of industry and tool of governance.

Trah The Rockefellers disuplai dengan kekuatan dana yang tak terbatas dan organisasi sosial (filantropi), seperti Gates, Carnegies dan Vanderbielts telah mampu mendanai – mengatur publik untuk taat dengan sistem wajib belajar yang diatur negara.

Dalam periode 1890 – 1914 Rockefeller sangat aktif dalam partisipasi publik dengan mendonasikan jutaan dollar kepada beberapa sekolah. 

•••

Horace Mann dengan “Prussian System.”

Horace Mann adalah eksekutor di depan layar, di tahun 1837 ia dijuluki sebagai “The Father of American Public Education.” di satu sisi Rockefeller menyuplai blueprint rancangan modern education dengan cita-cita dan amunisi finansial yang melimpah, Horace Mann menyambut tujuan ini dengan keahlian teknisnya. Duet maut.

Dengan label tersebut,  mulailah eksodus dirinya menjejakkan Prussi, Jerman. Sepulangnya dari sana, ia langsung mengubah – menerapkan sistem edukasi di seluruh lembaga pendidikan dengan “Prussian System.” atau sistem rakyat Prussia, Jerman.

Horace Mann adalah mentor dan pelatih dari para cikal bakal tenaga pengajar di daratan Amerika saat itu. Horace Mann adalah simbol modern education.

terungkap_rockaefeller_dibalik_sistem_pendidikan_dunia_horace_mann
“The father of public education,” Horace Mann

Dalam 30 tahun kedepan, semua akademisi menjadikan Prussia sebagai kiblat acuan sistem edukasi, mereka menempuh pendidikan terbaik disana, setelah misi selesai, pulanglah mereka ke kampung halaman dengan menjadi “pentolan” di tiap-tiap lembaga pendidikan tersohor di era itu.

Maka klop-lah sistem itu berangsur berputar. Pada tahun 1900-an semua yang bertitel Ph.D adalah jebolan Prussia.

Horace mann juga memproklamirkan istilah “The state is father of children,” bahwa negara bagian adalah sandaran (ayah) bagi anak-anak di Amerika.

“Prussian System” berawal di abad ke-18. Kekalahan yang menimpa rakyat Jerman dari Napoleon Bonaparte. Memaksa sang Kaisar untuk menemukan alasan kenapa mereka bisa kalah. Sindrom itu akhirnya ditemukan, terjawab.

Ternyata kaisar menemukan fakta psikis bahwa tentara Jerman bertempur tidak pernah untuk memikirkan negaranya ataupun rekannya sendiri, melainkan mereka hanya takut dengan memikirkan dirinya sendiri. Maka lahirlah konsep 8 tahun wajib belajar bagi bangsa Arya sebagai sebuah solusi. Demi merevolusi pemikiran – perilaku rakyat Jerman sedari usia dini, dari tingkat dasar.

Konsep dan sistem edukasi ini tidak hanya mengajarkan membaca, menulis dan menggambar. Sistem ini mengharuskan partisipan untuk patuh, tunduk dan disiplin dengan peraturan yang berlaku.

Esensi terpenting dalam “Prussian System” adalah: bagaimana menentukan hal apa yang layak untuk diberikan kepada anak-anak, apa yang nanti mereka pikirkan, dan berapa lama hal tersebut akan diingat dan dipatuhi oleh mereka. Berlanjut dengan keterbatasan informasi yang disajikan terhadap publik umum, berujung pada pupusnya daya nalar kritis tiap-tiap personal.

terungkap_rockefeller_dibalik_sistem_pendidikan_dunia_prussian

Mereka tidak diberikan posisi tawar yang demokratis, tidak memiliki opsi freewill. Diharuskan mengikuti instruksi pemerintah dibawah otorisasi sang Kaisar, bahwa sang Kaisar tidak pernah melakukan kesalahan. Dengan berjalannya teknik ini, maka peran pemerintah untuk mengambil alih dan mendominasi pola pikir – nalar hasil bentukan sistem akan berjalan sempurna dan lebih mudah diterima.

Salah satu pemain penting di balik sistem ini adalah Johan Fich, yang merencanakan dan menjadi think-thanker dibalik putusan pemerintah. Fich juga menjadi aktor penting dibalik bangkitnya neo-NAZI yang menerbitkan Adolf Hitler sebagai ikon sadistik dan otoriter. Kejadian ini terekam dalam pidato singkatnya dihadapan para tentara Prussian.

Pertanyaanya, kenapa “Prussian System” yang lahir dan membentuk karakter bangsa Arya, kemudian lekat dalam sejarah neo-NAZI, sampai sekarang masih diadopsi dan diberlakukan di Amerika Serikat, yang otomatis mempengaruhi seluruh negara lainnya sampai di hari ini?

Agak kontras memang, ketika dalam kurikulum kita diajarkan bagaimana kotor dan kejamnya NAZI dalam buku sejarah, tanpa kita pernah sadar; justru “Prussian System” adalah kerangka landasan sistem edukasi modern yang diadopsi seluruh lembaga pendidikan formal di seluruh dunia!

Bermain Di Dua Kaki

The National Teachers Association (NEA) adalah organisasi profesional kumpulan para guru-guru di Amerika, yang didirikan di tahun 1850. Barulah di tahun 1966, NEA melakukan merger dengan American Teachers Association (ATA), yang isinya didominasi kaum kulit hitam (negro).

Gaya main Rockefeller ini, memantik isu sentimentil; wajar, kala itu perbedaan ras adalah isu yang meluas seantero negara bagian Amerika. Dua tahun sebelumnya, di tahun 1964 Rockefeller’s General Education Board menyuntikkan dana sebesar 3.2 juta dollar demi mendukung pergerakan kaum kulit hitam (negro) dalam bidang pendidikan

Ternyata tujuan ini tercium oleh William H. Watkins, pengarang buku “The White Architects of Black Education: Ideology and Power in America” 1865 – 1954. Pendapatnya, Rockefeller sengaja memberikan “hadiah” dalam bentuk finansial gratis demi membentuk tatanan sistem edukasi dan memudahkan kebijakan politiknya nanti.

Dengan berpijak di dua pihak – dua kaki, Rockefeller memegang kendali kedua pihak; bebas dari resistensi atas kebijakan-kebijakan yang lahir dari organisasinya. Cerdas bukan?

Dengan mengadopsi sistem baru dalam dunia pendidikan, ditambah cengkraman Jesuit dalam ratusan sekolah di seluruh belahan dunia sebelumnya sejak abad ke-17, menjadikan kesamaan mereka dalam tujuan mengontrol pola pikir dan peradaban dunia terlihat mudah.

Kekuatan otorisasi dan jaringan dibalik tembok Vatikan, akses mudah tidak tersentuh, yang kemudian disiram dengan kekuatan finansial tak terbatas adalah komponen lengkap dalam menggiring tatanan dunia ke fase yang “baru”.

•••

Stagnan, Statisme dan ‘Scarcity’

Sadarkah kalian bahwa sistem pendidikan di dunia tidak pernah berubah sejak ratusan tahun lalu?

Situasi dan konsep sistem yang ditawarkan berstatus stagnan! masih serupa saat 150 tahun lalu sistem ini dicetuskan!

terungkap_rockefeller_dibalik_sistem_pendidikan_dunia
Situasi kelas 150 tahun lalu

Rockefeller sengaja menjadikan publik dunia “tanpa sadar” terkungkung dalam otorisasi dalam sistem yang manipulatif, mengandung ketidak jelasan sisi kebenaran itu; seharusnya seperti apa dan bagaimana refleksinya.

Kita dibentuk untuk mengikuti aturan yang kita sendiri belum tentu menyukai dan menyetujui dengan apa yang kedepannya kita hadapi.

Sesuai cita-cita kotornya, menjadikan generasi bermental pekerja, pesuruh yang patuh dan tunduk tanpa diberikan opsi pemikiran kritis (critical thinking).

Semua di dunia ini perlahan berubah, kita bisa bandingkan bagaimana perangkat sistem pendidikan itu sendiri yang disebut teknologi bermetamorfosis semakin canggih, hebat dan simpel. Mirisnya, sistem itu sendiri tidak pernah beranjak untuk lebih adaptif sesuasi jaman toh?

Kita tidak boleh membantah, dan menjadi “beda” diantara ratusan, bahkan ribuan murid-murid lainnya di bawah satu lembaga formal bernama sekolah.

Kebenaran dan prestasi memiliki acuannya sendiri, acuan yang sama sekali irasional bila kita cermati mendalam. Acuan yang terlihat tidak masuk akal di masa perkembangan umur kita saat itu (seharusnya).

terungkap_rockefeller_dibalik_sistem_pendidikan_dunia_study

Di usia dini dalam bangku sekolah, kita “dicekokkan” untuk menerima semua hal materi pelajaran yang seharusnya kita tidak sepatutnya alami di masanya.

Lulus ke tingkat menengah, terlihat kekonyolan yang lucu: kita seorang diri “dipaksa” untuk pada jalur yang stabil, bahkan kalau bisa menjadi terbaik diantara lainnya. Dengan menjadi hebat menguasai lebih dari sepuluh materi kurikulum seorang diri.

Esensi yang Sebenarnya Kita Dapatkan dari Statisme Dunia Pendidikan

Statisme, menurut Eric Dubay. Sindrom dimana kita tanpa sadar menjalani ritual keseharian yang terprogram, statis dan patuh dibawah aturan sistem. Tanpa memiliki kemampuan untuk mengkritisi, mempertanyakan: “Apakah ini sudah seharusnya begini, atau bukan?.”

Ada lima esensi dari statisme yang didapatkan dari sistem pendidikan modern itu sendiri:

Pertama. Nilai benar (kebenaran) itu haruslah datang dari sebuah otorisasi.

Kedua. Intelektualitas – kecerdasan itu adalah: kemampuan untuk mengingat dan mengulang apa yang harus diingat sesuai aturannya.

Ketiga. Tingkat akurasi mengingat yang tajam dan serupa, layak diberikan apresiasi – penghargaan.

Keempat. Ketidakpatuhan adalah suatu hal yang tabu, dan haruslah menerima hukuman sebagai konsekuensi pilihan itu.

Kelima. Intelektualitas dan status keberhasilan seseorang adalah yang diberikan predikat sebagai yang terbaik dan memiliki gelar – titel.

Sementara itu, sang pengajar yang jelas lebih tua dan lebih pintar dari kita, hanya diwajibkan mengajar satu – dua materi saja. Ingat, satu – dua materi saja. Ini salah satu ketidakberesan sistem yang kita tak mau sadari. Konyol.

Dengan alasan, sekolah adalah dasar menuju kesuksesan di masa depan; kita digiring ke dalam sindrom scarcity effect. Sindrom akan ketakutan yang berlebihan, paranoid akan kegagalan.

Bila tidak bertitel, jangan harap hidupmu akan lancar dan baik-baik saja kawan!

terungkap_rockefeller_dibalik_sistem_pendidikan_dunia_scarcity

Berlanjut dengan indoktrinasi bagaimana seharusnya kehidupan manusia “normal” pasca proses pendidikan selesai, lagi-lagi kita digiring untuk menjadi takut bila kita tidak mengikuti kebanyakan manusia yang “intelek”. Dengan bekerja, mengikuti pola statisme.

terungkap_rockefeller_dibalik_sistem_pendidikan

Sekolah, kuliah kemudian lulus. Bekerja “selayaknya” seperti orang kantoran, delapan jam bekerja, kejar kesuksesan yang identik dengan representasi materi duniawi. Tidak mau kalah; berlomba mengikuti jebakan delusi sistem bank demi sebuah servis bernama kredit ataupun cicilan.

Itu wajar, itu normal menurut society. 

Tidak ada yang salah dengan pola tersebut, benar memang itu tidaklah salah. Kemudian menjadi kesalahan yang terbesar, ketika persepsi – acuan tersebut dijadikan sebagai parameter publik dalam menilai hal; mana yang benar tapi salah, atau jelas salah namun lumrah.

Padahal jelas, pesanNya dalam gen DNA tubuh manusia; masing-masing memiliki keunikan, karakteristik yang satu sama lain berbeda! kenapa kita masih “nrimo” saja tok, tanpa memahami pesan terkadungNya?

“Menurut Nicolo Machiavelli, ada dua cara untuk mengambil peran dalam  mengontrol perilaku publik yang paling mendasar: menjadi yang paling dicintai (to be love), atau menjadi yang paling ditakuti (to be fear).”

Rockefeller tahu benar bagaimana ia menumbuhkan efek ketergantungan di atas sistem yang ia adopsi. Bila tidak mematuhi – mengikuti, ketakutan akan persentase kegagalan hidup di masa depan menghantui pekat. The Scarcity effect.

Kita tidak lagi teredukasi, statisme menjebak nalar kita. Terima tidak terima, Rockefeller telah sukses membentuk milyaran manusia menjadi para pekerja.

Para manusia repetitif yang anti mengkritisi sistem yang berjalan, karena bagi mereka pemenuhan eksistensi yang telah dilalui di masa proses edukasi, harus terwujud dalam bentuk kesuksesan. Terpampang dalam sebuah objek nyata (tangible), terlihat oleh mata, yaitu materi.

Lebih parah dari pekerja, karena kita mau tak mau bentuk pola dari perwujudan budak-budak di era modern (modern enslavement). Buktinya? lihatlah sekelilingmu dimulai pagi menyapa sampai tibalah malam nan sunyi, milyaran manusia di bumi datar ini melakukan sesuatu hal berlandaskan misi mereka untuk “sekedar” bertahan hidup. Mencari uang bergeser ke skala prioritas, selebihnya? nothing!

Masih tetap budak, sekalipun teredukasi, hanya kemasannya saja yang dibedakan.

Kita merasa “sudah” teredukasi dan menjadi “cerdas” karena sistem pendidikan itu sendiri, disaat bersamaan; semakin kita menyadari, semakin mendalam, maka kita hanyalah dibentuk menjadi robot-robot yang berjalan tanpa diperbolehkan menjadi kritis, beda, dan berjalan berseberangan dengan mainstream.

terungkap_rockefeller_dibalik_sistem_pendidikan_dunia

Nyelekit?

Lebih nyelekit ketika kita sudah tahu dan ngeh lewat cerita dan fakt ini, kita masih memilih untuk berucap santai berseloroh, “Udahlah ngapain sih lo pikirin gitu-gituan, mending lo cari makan, aman dan bisa hidup lo ampe besok….”

Jleb!

terungkap_rockefeller_dibalik_sistem_pendidikan_dunia

•••

Bagaimana di Negara Kita, Indonesia?

Tidak perlu menilik jauh puluhan tahun lalu, seperti kita membahas historikal Rockefeller dan kroninya. Sejak empat tahun lalu ketika kurikulum 2013 dirilis, sistem pendidikan di negara kita tercinta ini, Indonesia, masih menyimpan penyakit kronis yang klise.

Orientasi kurikulum yang dikritisi banyak pihak karena tidak mengedepankan nilai – moral religi, justru lebih mengutamakan kepentingan hasil (result oriented). Melupakan bahwa proses (process oriented) adalah esensi terpenting dalam perjalanan manusia sebagai seorang pembelajar dalam kehidupannya.

Kita tidak lagi menghormati nilai suci sebuah proses perjalanan dalam bermetamorfosis, karena tujuan kita hanyalah garis finis. Apapun yang terjadi, garis itu harus dituju. Kita lakukan apapun, demi itu. Entah halal, haram ataupun syubhat.

Belum lagi standarisasi bagaimana negara ini menilai daya-upaya para guru-guru mulia disini. Minimnya upah disertai demo tiap tahunnya, menjadi pandangan lumrah dalam dunia pendidikan kita, yang diklaim bahwa sistem ini adalah sistem yang modern.

Yakin?

Lihatlah Finlandia, negara kecil dengan peringkat sistem edukasi terbaik di dunia: 

• Materi pelajaran yang sangat krusial dan penting diadakan diluar ruangan kelas mengajar.

• Hari masuk sekolah yang lebih pendek dan tidak penuh dalam seminggu. Aktivitas olahraga umumnya disponsori oleh kota-kota lokal setempat sebagai penyokong utama dalam hal moril – finansial.

• Para guru pengajar hanya menghabiskan jatah 600 jam mengajar per tahunnya, bandingkan dengan Inggris dengan 900 jam dan 1100 jam di Amerika Serikat.

Dan Yang mungkin paling dahsyat, sederhana namun sulit dipalikasikan dalam kultur kita sebagai ras Melayu – Indonesia yaitu, “A non-judgemental environment where teachers are valued rather than criticised constantly.”

“Pengajar diwanti-wanti untuk tidak menjadi seorang yang penuh otorisasi – absolut penuh dengan penghakiman sepihak, di Finlandia para pengajar diharuskan menghargai – mengapresiasi hal perbedaan yang mengacu pada kesalahan, ketimbang mengkritisi dan mengkukum para murid.”

Satu lagi! Finlandia tidak mengenal istilah pendidikan formal, sampai tibanya warga negara mereka di umur 19 tahun!  

Eks mentor saya dulu di dunia sulap, Deddy Corbuzier sudah lebih dulu berani mengatakan bahwa sekolah hanyalah ketidakbecusan plus ketidakberesan hasil dari sistem pendidikan.

Yang sengaja menjadikan mayoritas manusia menjadi bodoh dengan aturan yang irasional dan tidak masuk akal!

Ia mempertanyakan, bagaimana mungkin seorang anak usia dini diharuskan untuk menghapal dan mempelajari hal yang mereka sendiri tidak paham dan sukai?

Ia mempertanyakan, kenapa indoktrinasi manusia sukses itu tergantung bagaimana sekolah menilai mereka dengan prestasi sebuah nilai dan gelar titel?

Deddy Corbuzier dengan pede mengklaim dirinya tidak naik kelas dua kali, sekolah kacau balau; namun kenyataannya ia justru menjadi seorang yang sukses di dunia entertainment. Lagi-lagi, pisau bermata dua: kita menganggap edukasi adalah nilai tertinggi dalam proses kehidupan, sakralnya sebuah ilmu? nyatanya? nilai kesuksesan itu sendiri dibutakan oleh nilai materialisme duniawi bagi pandangan umum.

Entah itu seberapa banyak uang kertas yang kamu punya, tingkat ketenaran dan eksistensimu, berapa banyak mobil yang kamu koleksi, atau hal-hal serupa lainnya. Tragis!

The Fantasy of Materialism

Corbuzier berani untuk membuka mata kita, bahwa bagaimana sekolah bukanlah suatu hal kewajiban, yang menjawab masa depan dengan kesuksesan. Yang lebih duluan sudah dikritisi oleh seorang Albert Eisntein, perihal isu kejeniusan dan kecerdasan yang terkandung dalam diri manusia:

“Everybody is a Genius. But If You Judge a Fish by Its Ability to Climb a Tree, It Will Live Its Whole Life Believing that It is Stupid.”

Tidak perlu lagi saya terjemahkan bukan?

Think! 

•••

REFERENSI VIA
“Secret Societies That Threaten to Take Over America” 2008.
hackeducation thrivemovement conpsiracytruths


 

 

 

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *