situs konspirasi indonesia konspirasi id

Anak muda berdarah Yahudi Austria – Amerika itu meraih kepopulerannya disaat anak muda seusianya mungkin sedang mengenyam tingkat perkuliahan. Edward Louis Bernays, “The Father of Propanda.”

They who pull the wires which control the public mind, who harness old social forces and contrive new ways to bind and guide the world.” klaim Edward L. Bernays dalam bukunya, Propaganda (1928).

Mereka yang mengendalikan persepsi publik, yang memanfaatkan permasalahan sosial; mengembangkan cara-cara baru untuk mengendalikan dunia. Kata kunci dalam buku terbitannya di tahun 1928, “Propaganda.”

Edward Louis Bernays

Edward Bernays adalah manusia yang pertama kali meluncurkan dan mempopulerkan istilah propaganda sejak awal tahun 1930. Semua disinformasi, half truths, post truths, opinews, framing dan informasi yang tidak sesuai dengan fakta – realita melalui televisi, radio, internet dan media komunikasi lainnya, yang merasuk masuk mencekoki kita sadar tidak sadar adalah hasil kreativitas pemikiran anak muda keturunan Yahudi ini: Edward L. Bernays.

Bernays sukses menjadi public relation counsel, berkolaborasi dengan perusahaan-perusahaan raksasa yang membutuhkan jasanya dalam membentuk persepsi psikologi publik. Nama Bernays sukses di Amerika setelah pamannya di awal tahun 1900-an.

Ia terinspirasi B.F Skinner dan pamannya, Sigmund Freud lewat teori psikoanalisis. Ia melihat bahwa manusia pada umumnya adalah makhluk yang liar, egois yang membutuhkan lingkungan sosial (grup).

Ditambahkan James Sandorlini dari Chicago Media, dalam tulisannya Propaganda: The Art of War :

“Bernays telah menjalankan propaganda secara serius dengan mengabungkan psikologi individu dan sosial, opini publik, persuasi politik dan trik-trik marketing untuk menjalankan suatu hal yang tadinya ilusi menjadi kenyataan.”

Sebuah informasi yang dimanipulasi dengan terogranisir, tersusun rapih; kemudian diterima dalam intensitas berkala secara vertikal, akan mengubah persepsi rasional menjadi irasional penuh kebias-biasan kognitif.

Opini menjadi fakta, disinformasi menjadi informasi. Perbedaan antara terinformasi dengan teredukasi tidak lagi terlihat kontras bedanya. Intervensi media komunikasi yang juga mementingkan keuntungan (profit) dalam kenyataannya, mau tak mau melanggengkan propaganda menjadi asupan yang ‘lumrah.’

the_father_of_propaganda

Propaganda Adalah “Public Relation”

Public relation yang kita kenal di hari ini, lengkap dengan instrumen pendukungnya berlabel advertising, branding ataupun marketing adalah hasil turunan dari peran – maksud propaganda itu sendiri. Bernays sendiri adalah propagandist, pemain kunci yang berperan dalam memulai, memikirkan serta melancarkan konsep propaganda – propaganda demi tujuan dan ambisi personalnya.

Public relation counsel istilah yang ia sebut dalam bukunya “Propaganda.”

Ia sebagai counsel memang direkrut oleh perusahaan – instansi sebagai penasihat (advisor), bertugas untuk menghasilkan ide-ide kunci demi merebut atensi publik atas tujuan bisnis perusahaan tersebut.

Bernays menggunakan media, dan sekumpulan orang-orang yang sengaja direkrutnya untuk menjadi senjata pendukung dalam tiap propagandanya.

Salahkan hasil pemikiran Bernays, bila kamu senormalnya pria yang tidak menyukai bahwa rokok tidak pantas untuk para kaum hawa. Bernays yang meracuni persepsi publik kala itu.

Bernays adalah figur kunci yang berhasil menggiring persepsi publik disaat awal hadirnya industri rokok di Amerika. Ia memang jenius dengan insting layaknya seekor elang yang memang detil dalam memantau pergerakan publik saat itu.

Bernays pula yang melahirkan istilah sarapan yang “seharusnya” dikonsumsi publik modern Amerika Serikat adalah bacon and eggs.

Klien-klien penting yang menggunakan jasa Bernays adalah nama-nama besar dalam industri: Time inc, CBS, NBC, American Tobacco, General Electric, Dodge Motors, sampai Woodrow Wilson; terpilih sebagai presiden Amerika Serikat terpilih ke-28 berkat otak moncer Bernays.

Bernays, Politik dan Woodrow Wilson

“The conscious and intelligent manipulation of the organized habits and opinions of the masses is an important element in democratic society. Those who manipulate this unseen mechanism of society constitute an invisible government which is the true ruling power of our country.” – Propaganda (1928), Edward L. Bernays.

Bernays, Wilson dan Lipmann

John D. Coleman menggambarkan bagaimana taktik Wilson menyiapkan badan rahasia bayangan untuk merencanakan – melancarkan suksesi peperangan, ditambah penasihat yang tidak terekspos publik; dalam menentukan keputusan akhir Woodrow Wilson.

Bernays bahu membahu melancarkan propagandanya lewat bantuan tangan sang jurnalis Pulitzer Awards yang sesama keturunan Yahudi, Walter Lipmann. Kedua manusia ini biang kerok di balik pemerintahan Woodrow Wilson.

“They also taught Wilson to set up a secret body of “managers” to run the war effort and a body of “advisors” to assist the President in his decision-making….” – John D. Coleman.

Bernays bertugas untuk mempersiapkan strategi propaganda kepada publik Amerika agar bisa melunak terkait keputusan pemerintah mereka mengikutsertakan diri dalam perang dunia ke-1.

Cuci otak yang fenomenal adalah bagaimana pemerintah menargetkan kaum kelas pekerja muda untuk berduyun-duyun merelakan diri menjadi mesin-mesin pembunuh serdadu militer dalam medan perang Flanders and the Somme.

Bernays sangat percaya kesuksesan teori mass publication manipulation-nya. Propaganda sangat bergantung kepada teknik yang diaplikasikan beserta instrumen pendukungnya, terutama saat berbicara politik, hukum dan pemerintahan.

Bagaimana ia memainkan efek ketakutan (scarcity) kepada publik Amerika terhadap sebuah istilah komunisme, yang seakan berkonotasi negatif, menyeramkan dan sangat tidak bermoral.

Propaganda is the executive arm of the invisible government.” Edward L. Bernays

Tujuannya sederhana, dengan mempatronkan disinformasi via propaganda komunisme itu jahat, musuh besar kapitalisme dan demokrasi, maka publik selanjutnya akan sangat mudah menurut. Kemudian melunak dengan semua keputusan pemerintah Amerika Serikat.

Dimana mayoritas publik Amerika sendiri tidak begitu tahu-menahu, apa detil dan maksud tujuan serta kepentingan negara mereka dalam perang tersebut!

The Battle of Some

Kamuflase atas Langgengnya Bank Federal

Bernays adalah figur penting dibalik kemulusan akses bank Federal lewat undang-undang perbankan yang dikeluarkan presiden Woodrow Wilson kala itu, bernays pula yang ‘menipu’ publik dengan istilah penyamaran (pembiasan) kata-kata yang tersusun penuh kamuflase dalam undang-undang perbankan.

Coba bayangkan, persepsi apa yang muncul otomatis di otakmu setiap mendengar istilah bank federal? kebanyakan anggapan kita itu adalah bank milik pemerintah bukan.

Bernays mengajarkan Wilson berjualan isu Demokrasi sebagai alat propaganda Amerika Serika ia tahu bahwa publik sama sekali malas untuk berpikir mendalam atas isu-isu yang mereka ketahui seputar pemerintahan dan politik. Karena mereka lebih memilih ‘disibukkan’ untuk memenuhi kebutuhan biologis daripada politik.

Sengaja, pembiasan – permainan kata-kata yang diinisiasikan Bernays; memang sengaja untuk menggiring opini – persepsi publik, bahwa bank Federal sepertinya dimiliki oleh negara, padahal bukan.

Propaganda adalah lies, half truths, post truths, misleading information (disinformation), bias, dan selective history; sejarah ‘pilihan’ yang sengaja dipopulerkan demi tujuan – kepentingan politik.

BACA JUGA Bagaimana Coleman Membongkar Tavistock Insitute dan Pengaruh Bernays dengan Sang Paman

Metodologi propaganda lewat poling survei – opini publik memang teknik propaganda awal yang diluncurkan Tavistock. Dipopulerkan Bernays dalam peta perpolitikan pemerintahan Amerika Serikat yang dibidani The Creel Comission.

Propaganda Kaum Hawa, “The Torches of Freedom”

Ini yang paling sadis menurut saya! bagaimana Bernays dengan apiknya mengubah hal yang jelek justru berbalik menjadi populer dengan simbol kebebasan, perlawanan kaum hawa saat itu!

Sampai dengan akhir tahun 1920-an, cewe perokok di depan umum adalah hal yang sangat tabu bagi publik. Segera pasca ia berkordinasi dengan psikoanalisis; tentang bagaimana persepsi banyakan wanitat saat itu terkait isu merokok bagi kaum wanita; ternyata merokok adalah sebuah simbol kebebasan.

Torches of freedom bermakna suatu simbol kebebasan atas penindasan kaum adam terhadap hawa menurut para wanita saat itu. Analisa ini menghasilkan ide progresifnya Bernays; untuk diaplikasikan saat momen easter (paskah) tiba.

Ia mengirimkan info ke para jurnalis media-media mainstream sebelum hari -H, bahwa nanti akan terjadi momen penyalaan api kebebasan oleh para wanita cantik di tengah publik.  Tibalah hari yang dimaksud, semua jurnalis sudah siap memantau di titik tertentu, mengamati kapan kejadian yang dimaksud Bernays, lengkap dengan pena, kertas, dan kamera.

Dan…… juegerrr! “freedom of torches” dihadirkan!

the_father_of_propaganda

Propaganda Bernays sukses mengubah opini masif publik yang berada di sekitar parade, ditambah kolom headline keesokannya dalam New York Times melanggengkan Torches of Freedom-nya.

Persepsi publik tentang rokok dan kaum hawa perlahan bergeser, tidak lagi menjadi tabu dan kontroversial. Jenius!

Dalam kurun waktu periode 1923 sampai tahun 1935, tingkat kenaikan wanita perokok drastis menanjak, dari 5 persen menjadi 18.1 persen!

the_father_of_propaganda
Lucky Strike, “Forever and ever…” (Februari, 1933)

“Bacon and Eggs” ala Bernays

Bahkan Bernays juga ikut ‘mengatur’ persepsi publik Amerika dalam mempropagandakan menu sarapan apa yang sebaiknya menjadi acuan normal saat itu? Bacon and Eggs adalah hasil populer Bernays, yang masih berlaku di hari ini.

Bernays melancarkan copywriting nan emosional untuk memainkan persepsi publik yang penuh bias-bias kognitif umumnya. “Eat more eggs,” “Bacon and eggs are cheap and healthy.”

Bernays menggunakan teknik appeal to authority, dengan menggunakan jasa para dokter dan beberapa ahli medis untuk mengonsumsi bacon dan eggs. Ia tahu, publik otomatis tersihir bila pernyataan terlontar dari mulut para ahli seperti dokter dan ahli medis lainnya; mau apapun itu sifatnya, opini ataupun fakta; tendensi publik akan lebih mempercayai itu sebagai hal yang valid dan seperti sebuah fakta (terlihatnya begitu).

Bernays paham betul memanipulasi publik, ia yakin bahwa level tertinggi dalam otorisasi sangat berperan dalam mengatur opini dan perilaku publik awam.

Bernays berjualan bacon and eggs tanpa mengedepankan kualitas produk tersebut, ia tidak fokus bagaimana lezatnya bacon, apakah penuh kandungan gizi dan aman?, sama sekali tidak.

Namanya juga Yahudi, kecerdasannya di atas normal; ia justru menggiring propagandanya melalui lewat pertanyaan yang di-framing, yang sebelumnya sudah dikordinasikan dengan para dokter rekrutannya.

Ia fokus memainkan isu dan teknik propaganda melalui topik, “Apakah hidup kita akan menjadi lebih sehat, bila kita sarapan dengan gizi yang sehat, atau secukupnya (minim)?.”

Yang juga dijawabnya berdasarkan argumen opini – masukan dari para dokter-dokter tersebut melalui kolom-kolom artikel media cetak saat itu.

Sembilan dari sepuluh dokter merekomendasikan bahwa sarapan yang sehat dan bergizi itu seperti satu ini.

the_father_of_propaganda

Sim salabim! pergeseran opini tentang bagaimana sarapan yang ‘seharusnya’ perlahan bergeser lagi, mau itu penuh kebenaran atau opini-news!

the_father_of_propaganda

Peran Bernays dalam Menjungkalkan Pemerintahan Guatemala

The United Fruit Company menyewa jasa Bernays sebagai propagandist, mereka adalah pemilik lahan terbesar dengan jumlah pekerja yang masif di bisnis perkebunan Guatemala. Peraturan perundang-undangan pemerintah Guatemala yang saat itu dipimpin oleh Jacobo Arenz, sangat merugikan pihak mereka. Keuntungan semakin menurun drastis dikarenakan aturan tersebut.

Disinilah Bernays lagi-lagi memainkan perannya. Ia mem-propaganda-kan framing kepada publik Amerika bahwa Arenz adalah pemimpin berpemaham komunis tulen! padahal, sejatinya Arenz justru seorang kapitalis nan liberal!

BACA JUGA Memahami Apa itu Controlled Opposition?

Karena polarisasi perpolitikan saat itu sengaja dihadapkan pada pilihan kapitalisme versus komunisme, yang identik dengan pertarungan blok barat Amerika dan sekutu versus Uni Soviet (Rusia).

Bernays menyajikan disinformasi ke publik sembari memainkan peran play victim bahwa The United Fruit seringkali dijadikan korban bancakan ketidak adilan politik rezim Arenz. Bernays mengirimkan para jurnalis sewaan untuk terbang dengan misi di Guatemala, memperkuat propagandanya dibalik tameng ‘jurnalisme.’

Jurnalis sewaannya yang datang dengan azas cherry picking (tebang pilih), sengaja mengambil informasi dan berbagai kesimpulan lewat lawan politik (oposisi) rezim Arenz, yang jelas hasilnya sangat tidak menguntungkan rezim Arenz.

Karena memang itu tujuan Bernays: menggiring opini publik Amerika dan mencari dukungan dunia agar menjatuhkan rezim Arenz! gaya klasik “Paman Sam” bukan?

Sama sekali absurd, subjektif dan sangat tidak berimbang.

Pengaruh Bernays dalam pemerintahan saat itu, sanggup mempengaruhi sang presiden, Dwight ‘Ike’ Eissenhower untuk mengintervensi – memerangi Guatemala via penggiringan politik internasional.

Arenz berhasil dikudeta dengan isu komunis, yang berlanjut terhadap aturan perundangan Guatemala direvisi agar semakin lebih ‘bersahabat’ dengan perusahaan-perusahaan asing, terutama The United Fruit Company.

Bagaimana pendapatmu tentang Edward Bernays dan karya propaganda-nya? jangan heran bila jurnalisme memang sudah lebih dulu tidak berimbang dan penuh motif politis tertentu.

It’s all about propaganda.

Ingin lebih detil dalam 8 menit bagaimana propaganda Bernays berjalan? dibawah ini kamu bisa saksikan via Youtube channel eudaimonia

REFERENSI VIA

Propaganda” – Edward L. Bernays (1928) | Historyisweapon.com | yourstory.com | theconversation.com |

Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *