Penyelundupan sabu sebesar 1 Ton pada 21 Juli 2017 yang lalu. Adalah peristiwa dari apa yang sering disebut dengan fenomena gunung es (the tip of the iceberg).

“Artinya, jumlah sabu – sabu seberat 1 Ton tersebut, hanya penampakan kecil dari kuantitas yang sesungguhnya! konon mencapai 250 Ton masuk ke negara kita!.”

Tentu saja hal seperti ini sungguh menyedihkan, bisa kita bayangkan, bagaimana nasib generasi yang lahir, baik pra dan pasca perang candu sekuel selanjutnya.

Dapat dikatakan, apa yang sering disebut pengamat, sebagai kembali dibukanya jalur sutra negara Cina. Kali ini bisa saja menemui pembenaran.

Sebab, jika ditilik dari segi geografis saja, bangsa Cina, jelas diuntungkan dengan makin majunya garis pantai negara mereka. Ke arah selatan.

Dimana, Mantan Panglima TNI, Jenderal Gatot Nurmantyo, di 23 Februari 2017, mengatakan bahwa 70 persen dari konflik yang ada di dunia, selalu soal pangan dan energi.

Yang semakin kita jauh melangkah, menjadi khalifah di muka bumi, persediaan bahan pangan dan energi makin menipis. Disebabkan laju pertumbuhan penduduk dunia. Saat ini jumlahnya sudah mencapai 7,6 Milyar. Diprediksi, tahun 2050 nanti, akan menembus angka 9,8 Milyar manusia, di planet Bumi.

Korelasinya adalah, seandainya, saya jadi presiden negara yang berada di belahan utara. Kemudian, demi melihat salah satu sumber pangan dan energi dunia, lebih potensial ada di selatan. Ekspansi dengan asymmetric war, sukar untuk di reject, sebagai opsi.

Rakyatnya sendiri banyak, lapangan pekerjaaan, terpusat di kota-kota besar. Sementara untuk SDA dalam negeri mereka, ada manifesto dari Partai berkuasa untuk melarang penduduk, mengeksploitasi barang tambang. Cukup dengan mengakali perizinan negara koloni yang bodoh. Selebihnya disimpan sebagai cadangan masa depan.

Lantas, sebagai benang merah, sejak rezim dusta berkuasa, kiblat ekonomi dan politik di Indonesia diyakini sebagian besar masyarakat yang waras, berkoordinat ke utara, atau negeri Cina.

tiongkok-maumu-apa

Dimana hal tersebut sah saja, jika untuk menjalankan amanat dalam pembukaan UUD 1945 :

Yang melindungi segenap bangsa Indonesia dan seluruh tumpah darah Indonesia dan untuk memajukan kesejahteraan umum, mencerdaskan kehidupan bangsa, dan ikut melaksanakan ketertiban dunia yang berdasarkan kemerdekaan, perdamaian abadi dan keadilan sosial

Dalam bidang pemerintah melaksanakan hubungan luar negeri sebagai salah satu upaya mensejahterakan masyarakat, tidak dalam bentuk pencangkokan ideologi atau kesepakatan rahasia, semuanya sah dan dapat dilakukan

Atau pada intinya berdagang, maka harus difikirkan adalah, bentuk kesepakatan dagang yang bagaimana yang boleh dan layak diikuti.

Jika hanya sebagai koloni, dengan menampung 10 juta turis berpostur tegap, kemudian perlahan mengajukan izin tinggal sementara. Belum lagi menurut rumor yang beredar, sudah memiliki e-KTP.

Maka perlu ditinjau ulang pola perjanjian itu, karena perjanjian bilateral ekonomi seharusnya mutual benefit, bukan satu pihak saja yang menggigit?

Menang banyak dong loh, makdirabit!

Namun fakta yang terjadi, justru sebaliknya. Rezim ini malah mengeluarkan aroma bertendensi khawatir, nafsu berkuasa dua periode membuncah. Dan hanya penuhi syahwat politik yang meletup, now or never, setelah sepuluh tahun “berpuasa.”

Hal ini digarisbawahi oleh beberapa kasus timpangnya hukum. Antara lingkaran kekuasaan dan para kroninya, dengan rakyat kebanyakan -yang sesungguhnya hanya menyuarakan suara protes- tapi ditangkapi.

Sebaliknya pemirsaa….. sekelompok tukang fitnah, tukang adu domba, tukang zina, dan tukang-tukang neraka. Malah difasilitasi oleh antek pengkhianat yang bercokol di ring 1 rezim. Jurus pura-pura cuek dan tuli segera disajikan.

Bentuknya bisa macam- macam, ada undangan buka puasa di Istana. Ada acara bertajuk makan-makan. Yang pada intinya, baik masyarakat umum atau terlebih netizen, dapat menandai jika rezim ini jelas berpihak.

BACA JUGA  Rahasia Yahudi Merusak Generasi dengan Video Porno

Berpihak pada apa? Pada kemunafikan yang disiarkan, pada kebiasaan gemar berdusta, gemar menyalahkan pemerintah sebelumnya, dan gemar memusuhi islam.

Intel negara yg baca, saya minta bersihin hati anda semua. Saya bukan “hate speech” dengan figur, tp saya jijik ketika hal “mudharat” diputarbalikkan faktanya!

Namun sepertinya, sang resi ketiga dari murid Jenderal Merah, masih memakai jurus lama, rentan dihajar. Oleh krisis ekonomi misalnya, atau gejala penurunan daya beli masyarakat.

Banyak faktor tentunya, akan tetapi penguasaan Sumber Daya Alam, adalah menjadi kunci, bagi hegemoni OBOR (One Belt One Road) atau jalur sutra ke selatan menjiwai roh “POROS JAKARTA – PEKING.” Karena seperti disinggung tadi diatas, pangan dan energi adalah kunci kaum globalis di negeri-negeri Utara.

tionngkok-maumu-apa

Meningkat ke arah pembahasan artikel ini, seperti yang sudah saya singgung diatas, bahwa saat ini, hampir dipastikan, kita sudah berada didalam asymmetric war. Perang asimetris, dengan atau tanpa pasukan. Tiada baku bunuh, tidak gegap gempita, atau penuh raungan pesawat tempur yang biasanya hujani kota dengan bom.

Cukup menina-bobokan suatu bangsa dengan gelontoran narkoba super. Barang benilai ekonomis, sekaligus mematikan bagi tunas suatu bangsa.

Bangsa mereka tau, jika saja para pemuda bangsa Indonesian sadar akan kekayaan bangsanya. Ditambah kecerdasan akal dan SDA yang melimpah, bukan tidak mungkin Majapahit jilid 2 akan terwujud. Setelah kemarin hampir 85% sudah wilayah kekuasaan majapahit dijawantahkan oleh Pak Harto.

Masih ingat dengan ini tentunya, “IpolEkSosBudHanKamNas,” jika iya, bersyukurlah.

Artinya kamu termasuk generasi yang mampu diarahkan oleh butir kehidupan yang membuat kita hidup cukup nyaman di era Orba. Sebelum akhirnya, mereka melenceng, rakus kekayaan hingga digilas oleh deru fake reformasi 1998.

Perang Candu Bangsa Cina Memang Menyasar Bangsa Kita

Mengapa saya begitu yakin, bangsa tiongkok sedang jalankan agenda genocide terhadap tunas bangsa?

Coba saja lihat, dari total tonase barang haram seperti sabu yang masuk ke Indonesia, kemudian hitung, didominasi dari negara mana barang laknat terbanyak itu datant? Cina? Ya jelas!

Lalu, adakah dari kamu pernah mendapat info, terkait adanya hukuman mati bagi para bandar di Indonesia, tanpa protes? sayangnya tidak!

Pasti protes, pasti jadi headline media massa mainstream. Diserbu gelontoran duit dollar, mereka para abdi dalem di sekitar singgasana, bertumbangan.

Atau yang paling jelas adalah, kapan kita melihat rilis resmi dari negeri tirai bambu, untuk sekedar mengirimkan kawat permohonan maaf, terkait terjangan narkoba. Yang dibeking oleh para bohir – bohir Tirai Bambu

Kini, beralih dalam rilis yang dikutip dari detikcom, Direktur Narkoba Polda Metro Jaya, Kombes Nico Alfinta, menyatakan bahwa Bandarnya itu diduga dari China. ” Kami akan berkoordinasi dengan Kepolisian China terkait hal ini. Kalau sama polisi Taiwan, kita sudah berkoordinasi,” ujar Direktur Narkoba Polda Metro Jaya Kombes Nico Afinta, Jumat, 21/07.

Dalam sejarahnya, bangsa cina pernah alami pahitnya kehilangan tunas bangsa. Yakni pada masa Dinasti Qing, yang saat ini merupakan pemegang tampuk kekuasan di Asia.

Dan, perang Candu (War of Opium) merupakan dua perang yang terjadi pada pertengahan abad ke-19, antara orang China dan Inggris di kedaulatan China. Pada perang tersebut pedagang Eropa menggunakan kekuatan adiktif candu untuk memperoleh hubungan dagang penting dengan Cina, negara yang mengisolasi diri dari dunia luar.

Sekilas Latar Belakang Perang Candu

tiongkok_maumu_apa
Via eco99international

Selama ratusan tahun, Orang-orang Cina tidak berhubungan dengan kegiatan ekonomi dunia lain. Meskipun demikian, banyak pedagang Eropa sangat ingin berdagang di Cina.

Wilayah Cina saat itu terkenal sebagai produsen sutera, rempah-rempah, teh, dan porselan berkualitas. Komoditi tersebut sangat populer di Eropa.

Namun, pemerintah Cina di bawah Dinasti Qing hanya mengizinkan perdagangan dilaksanakan di satu pelabuhan, yakni di Guangzhou (Kanton).

Akibatnya, Inggris menggunakan candu sebagai senjata pamungkas. Untuk menguasai sutera, rempah-rempah, teh, dan porselan berkualitas. Sekaligus melemahkan sendi-sendi negara Cina.

Rakyatnya diracuni dengan banjir selundupan candu. Dan dalam sekali kirim saat iti, kadang bisa mencapai ratusan ton.  

Perhatikan kawan, pola pengiriman dalam jumlah besar, juga di-copas oleh sindikat narkoba cina saat ini. Jumlahnya juga hampir mirip. Ratusan ton.

Mereka pasti sudah kalkulasi, jika sekian kilogram sabu (peluru) itu tepat mengenai sasaran tunas bangsa ini. Maka kepunahan atau missing link di mata rantai sejarah RI, jelas terputus.

Dan diragukan untuk bisa cepat pulih, dari serbuan beringas, narkoba murah dan mematikan itu.

Kembali ke sejarah perang candu. Maka perang yang dapat disebut Perang Anglo-Cina, berlangsung dari tahun 1839 – 1842 dan 1856 – 1860.

Sebagai klimaks dari sengketa perdagangan antara Cina dibawah Dinasti Qing dengan Britania Raya. Penyelundupan opium Britania dari India ke Tiongkok dan usaha pemerintah Tiongkok menerapkan hukum obat-obatannya menyebabkan konflik militer.

“Cina kalah dalam perang ini, sehingga Perjanjian Nanjing dan Perjanjian Tianjin ditandatangani. Akibat perang ini, Hong Kong diserahkan kepada Britania Raya.” Kemudian, seperti kita sama-sama alami, Hongkong baru saja diserahkan oleh Inggris, pada tahun 1997.

Sementara, sabu-sabu atau amphetamine yang selama ini disinyalir masuk dengan pola 8:2 atau 7:3 ( artinya 10 pengiriman, 2 atau 3 yang ketangkap sebagai setoran). Kini mereka ditenggarai akan sering mengganti pola.

Tadinya mereka bermain dalam ranah diam dalam kegelapan. Merunduk di kesunyian mata masyarakat, dan merangsek masuk dibalik buncitnya perut oknum aparat kena suap, namun bagi para sindikat tentunya dengan satu tujuan. Uang.

Dilain tempat, adalah perang asimetris tadi. Yang dalam banyak kesempatan, para punggawa negara juga sudah banyak mengingatkan, coba cekidot statement Kasdam II/Swj Brigjen TNI Marga Taufiq SH, MH yang mengatakan bahwa peredaran dan penyalahgunaan Narkoba di Indonesia merupakan bagian dari Strategi Perang Asimetri. Narkoba menjadi ancaman yang serius bagi bangsa Indonesia.

Dalam pengarahan itu, Brigjen mengatakan, perang Asimetris merupakan model peperangan yang dikembangkan dari cara berpikir yang tidak lazim, dan di luar aturan peperangan yang berlaku, dengan spektrum perang yang sangat luas mencakup aspek asta-gatra sebagai perpaduan antara trigatra (geografi, demografi, dan sumber daya alam), dengan Pancagatra (ideologi, politik, ekonomi, sosial, dan budaya, serta Hankam). Salah satu bentuk ancaman peperangan ini adalah melalui Narkoba (drugs).

Jika dipakai ilmu cocokologi, maka banyak batin pembaca akan mengiyakan situasi saat ini. Sesuai dengan step atau tahapan dari perang asimetris.

Banyak pemuda-pemudi bergelimpangan, rusaknya kehidupan beribadah antar agama. Direcoki juga oleh antek pengkhianat. Yang bertebaran mulai dari pejabat publik yang pasang badan soal reklamasi, antek sekte syiah, dan antek dari konspirasi US-RRC.

Peran Clinton Sebagai Pengatur Proxy

Dalam sengitnya pertarungan Pilpres 2014, Penasihat pasangan Capres- Cawapres, Prabowo-Hatta, Letjen TNI (Purn) Suryo Prabowo mengatakan, kedatangan itu terkait kampanye kesehatan dan lingkungan hidup.

Menurutnya, kunjungan yang dilakukan Bill Clinton ke Indonesia tersebut tidak lazim disaat rakyat Indonesia menunggu hasil pilpres. Kedatangannya juga dikhawatirkan akan mengganggu independesi KPU.

“Clinton memang bukan Presiden Amerika lagi, tapi jangan lupa dia menjadi Presiden Amerika karena dibantu oleh James Riady. Semua orang tahu pengusaha Indonesia James Riady saat ini menjadi salah satu sponsor pasangan Jokowi-JK,” tegas Suryo, seperti dikutip dari muslimdaily.

Selain itu, lanjutnya, kunjungan itu patut diwaspadai karena sejumlah perusahaan milik negara adi kuasa itu bermasalah dengan Undang-Undang Minerba. Ditambah adanya ketakutan terhadap pasangan Prabowo-Hatta jika memenangi Pilpres 2014.

“Mereka pasti tahu Prabowo sangat konsen dengan pengelolaan sumber daya alam Indonesia. Ini yang ditakuti mereka. Kemarin mereka kirim wartawan Allan Nairn untuk menghadang laju Prabowo. Sekarang mereka kirim Clinton,” tandasnya.

Ditambahkannya, pemilu saat itu bukan hanya persaingan antara Prabowo dan Jokowi. Akan tetapi, merupakan perlawanan Indonesia terhadap kekuatan asing.

Yang kini sama-sama kita bahas tadi, salah satunya menggunakan perang asimetris. Dalam sebuah artikel di chirpstory, dikatakan ” Fakta bicara Hanya di Rezim ini pertikaian Agama terlalu Vulgar mulai dari penistaan Al-Quran, Penangkapan Ulama, pembubaran pengajian, isu PKI, pembongkaran Musholla ”

Sekulerisasi➡ Pelemahan islam➡ Pelemahan ideologi➡ Divide et impera. Grand strategy dari Partai Komunis China. Tulis akun admin @Ronin016.

tiongkok-maumu-apa

Apakah hal ini akam dibiarkan? Generasi tua yang sekarang memimpin negeri dibutakan oleh kekuasaan semu (padahal mereka sadar /tanpa sadar bertindak sebagai proxy atau boneka), kemudian generasi muda – produktif dibuat gaduh oleh rusaknya lini komunikasi di medsos oleh para pelacur media sosial.

Semburkan fitnah, pecahkan persatuan umat islam dengan isu remeh temeh, menggoreng ‘dosa’ tokoh perlawanan medsos dengan narasi pilihan. Seperti Anti pancasila, Intoleransi, anti kebhinneka-an dan sebagainya.

Sementara di sudut-sudut peradaban, tunas bangsa kian asyik masyuk menghirup asap jahanam sabu-sabu, menenggak miras dalam kegelapan diskotik, konsumsi obat-obatan yang lazimnya disuntikkan pada hewan. Apa yang kurang dari kebaikan tetangga utara?

“Infrastruktur dan Narkoba didominasi oleh Cina terhadap kita kawan.”

Jadi, apa maunya negeri Cina ini pada bangsa Indonesia?

Bukankah ratusan tahun yang lalu, Kretajaya pernah berucap : “Bilang sama rajamu, Singosari tak sudi dijajah Cina.”
Kok sekarang malah bertekuk lutut ? Berdiri sama tegak, namun bungkam bagai pelayan atau babu internasional?

Sadar dan tobatlah duhai Yang Mulia Presiden, anda mungkin hidup puluhan tahun lagi ke depan, akan tetapi bagaimana nasib anak cucu bangsa? Bagaimana dengan hutang yang menggunung? Siapa yang bayar?


Referensi via okezone eramuslim

Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *